My WordPress Blog
Bisnis  

Pasokan Batubara Menipis, Prospek Emiten Semen Menurun



.CO.ID – JAKARTA.

Kondisi yang dihadapi perusahaan produsen semen semakin memprihatinkan. Kelangsungan usaha mereka terganggu akibat pasokan batubara yang tidak stabil sejak awal tahun 2026. Hal ini memengaruhi operasional dan margin keuntungan perusahaan.

Dalam laporan sebelumnya, Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (Asperssi) menyatakan bahwa stok batubara terus berkurang. Pada tanggal 25 Maret 2026, rata-rata stok hanya cukup untuk tiga minggu ke depan. Bahkan, beberapa pabrik semen telah menghentikan operasinya karena kesulitan mendapatkan batubara.

Batubara menjadi bahan bakar utama dalam proses produksi semen. Bahan baku seperti batu kapur dan tanah liat dibakar menggunakan batubara, sedangkan abu hasil pembakaran digunakan sebagai campuran dalam pembuatan semen. Dengan keterbatasan pasokan, proses produksi terganggu dan biaya meningkat.

Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, menjelaskan bahwa krisis batubara menjadi sentimen negatif bagi emiten sektor semen pada 2026. Kebijakan pemerintah yang memprioritaskan pasokan batubara untuk sektor ketenagalistrikan membuat industri semen tertinggal dalam antrean. Selain itu, RKAB pemasok batubara baru sebagian disetujui, sehingga memperparah masalah ini.

Di samping masalah pasokan, tantangan lain yang dihadapi adalah permintaan yang rendah dan kompetisi yang ketat. Kapasitas produksi semen mencapai 120 juta ton, namun kebutuhan domestik hanya 65 juta ton. Hal ini menyebabkan utilisasi rendah dan harga semen tetap tertekan.

Liza menambahkan bahwa kinerja emiten masih bisa tumbuh, tetapi terbatas. Pertumbuhan lebih didorong oleh efisiensi biaya daripada ekspansi volume. Pengamat Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai bahwa meskipun emiten masih memiliki ruang bertahan, pertumbuhan agresif sulit dicapai.

Permintaan semen domestik masih menghadapi tantangan seperti oversupply dan permintaan yang stagnan, terutama dari sektor properti yang belum pulih sepenuhnya. Namun, proyek infrastruktur tetap menjadi penopang utama, meski laju pertumbuhannya lebih lambat.

Strategi efisiensi menjadi kunci utama bagi emiten semen. Penggunaan energi alternatif seperti RDF dan biomassa dapat membantu mengurangi ketergantungan pada batubara. Selain itu, optimalisasi distribusi dan digitalisasi rantai pasok sangat penting untuk menjaga biaya tetap kompetitif.

Peningkatan harga jual semen menjadi opsi, tetapi ruangnya terbatas karena pasar yang kompetitif. Strategi yang lebih realistis adalah menjaga pricing discipline secara bertahap. Liza menyarankan emiten untuk fokus pada pasar ekspor, seperti Bangladesh dan Australia, yang memiliki permintaan tinggi. Meskipun penjualan ke pasar ekspor meningkat 32,2% year on year pada 2025, kontribusinya masih kecil untuk mengompensasi tekanan margin di pasar domestik.

Emiten yang berpotensi outperform pada 2026 adalah mereka dengan biaya efisien, neraca kuat, dan distribusi solid. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) cenderung lebih defensif karena posisi keuangan yang kuat, sementara PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) unggul di skala dan distribusi tetapi lebih rentan terhadap tekanan biaya.

Saham INTP diprediksi memiliki target harga sekitar Rp 7.600, sementara SMGR disarankan hold dalam jangka pendek. Hendra merekomendasikan speculative buy saham SMGR dan INTP dengan target masing-masing Rp 2.740 dan Rp 5.800. Saham Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) direkomendasikan trading buy dengan target harga Rp 910 per saham.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *