My WordPress Blog
Daerah  

Ani dan Banjir yang Tak Pernah Menghilang di Pejaten Timur

Banjir di Jakarta: Ancaman yang Terus Menghantui Warga



Bagi sebagian warga Jakarta, air tidak lagi menjadi kebutuhan dasar yang selalu membawa manfaat. Justru, air kini menjadi ancaman serius bagi keselamatan dan kenyamanan hidup mereka, terutama di tengah banjir yang sering terjadi. Kondisi ini semakin memperparah ketidaknyamanan yang dirasakan oleh masyarakat di wilayah-wilayah rawan banjir.

Dalam beberapa waktu terakhir, Jakarta kembali diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Sungai-sungai yang mengalir di tengah permukiman tidak mampu menampung debit air yang meningkat drastis, sehingga meluap dan menggenangi rumah-rumah warga. Wilayah yang berada di bantaran kali menjadi yang paling terdampak. Banyak warga harus mengungsi untuk menyelamatkan diri dari bahaya banjir yang datang secara tiba-tiba.

  • Beberapa warga memilih untuk naik ke lantai atas jika rumahnya memiliki lebih dari satu lantai. Namun, bagi mereka yang tinggal di rumah satu lantai, opsi ini tidak tersedia. Mereka terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya demi menjaga keselamatan diri sendiri.



Salah satu korban banjir adalah Ani (63), warga Pejaten Timur, Jakarta Selatan. Pada malam Jumat (23/1), banjir di wilayah tempat tinggalnya mencapai ketinggian hingga dua meter. Ani bersama sejumlah warga RT 16 Pejaten Timur mengungsi ke teras rumah tetangga yang berada di dataran lebih tinggi, guna menghindari genangan air yang merendam rumahnya.

Banjir datang dengan cepat, tanpa banyak jeda. Air langsung naik dengan cepat, membuat Ani panik dan tidak sempat menyelamatkan barang-barang miliknya. Ia hanya membawa tubuhnya sendiri, tanpa membawa apa pun. Bahkan hingga hari berikutnya, ia belum sempat mengganti pakaian.

“Langsung aja kita jalan, airnya udah segini, seleher. Cepet banget naiknya. Enggak bawa apa-apa, cuma bawa badan. Dari kemarin juga enggak ganti baju. Yang penting nyelametin diri,” ujar Ani saat ditemui.



Ani memilih untuk pasrah melihat perabotan rumahnya terendam air. Televisi, peralatan memasak, hingga kulkas ditinggalkan begitu saja. Ia mengatakan bahwa semua itu sudah dibiarin aja. Meski sedih, ia memilih untuk fokus pada keselamatan diri sendiri.

“Sudah dibiarin aja. TV jungkir balik, tempat masak nasi, kulkas. Masih rezeki, ya gitu dah. Kita panik lihat air udah tinggi. Rumah dikunci, digembok, ditinggal. Kalau udah dijemput perahu, udah enggak mikirin barang, mikirin diri sendiri aja,” katanya.

Ani mengingat betul malam saat air mencapai puncaknya. Menurutnya, banjir sudah terjadi sejak pagi, sempat surut, lalu kembali naik menjelang malam. Informasi tentang kiriman air dari hulu ia peroleh melalui aplikasi pemantau tinggi muka air Katulampa di ponselnya.



“Kan ada di hp, dari Bogor-nya. Udah dikasih tahu di situ,” ujar Ani.

Hingga Sabtu (24/1), saat berada di lokasi, banjir belum sepenuhnya surut. Ani terpaksa bermalam di rumah tetangganya. Setiap malam, ia mengaku sulit tidur karena cemas akan naiknya air kembali.

“Iya, numpang. Enggak bisa tidur. Duduk aja. Kalau banjir mah enggak ada yang tidur,” katanya.

Ani telah tinggal di kontrakan kecil itu selama 14 tahun. Rumah tersebut berada tepat di tepi Kali Ciliwung, menjadikannya salah satu titik paling rawan banjir. Ia menyebut banjir hampir menjadi bagian dari keseharian hidupnya, terutama saat musim hujan.

“Kalau banjir kecil mah, sedengkul, hampir tiap hari. Kalau siaga 3 aja tuh, tiap hari banjir,” ujarnya.

Pengalaman terburuknya terjadi beberapa bulan lalu, saat bulan puasa. Ia mengatakan bahwa banjir kembali menghancurkan kehidupannya.

“Puasa kemarin, puasa kedua, kita udah kelelep. Air masuk semua. Ini belum puasa aja udah kayak gini lagi,” katanya lirih.

Di tengah keterbatasan ekonomi, Ani hanya menyimpan satu harapan kepada pemerintah. Ia ingin agar kontrakannya segera digusur dan direlokasi.

“Pengennya sih cepet digusur, terus direlokasi,” ujarnya.

Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *