
Laju perahu karet membelah genangan banjir di Pekayon, Jakarta Timur, pada hari Sabtu (21/3). Sejumlah warga, mulai dari orang tua hingga balita, duduk di atasnya sambil didorong oleh petugas keluar dari area yang tergenang setinggi dada orang dewasa.
Sebanyak 200 rumah terdampak oleh banjir yang menerjang RT 10 RW 07 Pekayon sejak pukul 17.00 WIB. Ketinggian air mencapai 1,5 meter. Dari jumlah tersebut, sebanyak 28 warga dievakuasi dalam dua tahap.
“Kebetulan tadi evakuasi 15 orang (yang pertama), tapi tidak mengungsi. Hanya di rumah kerabat dan rumah warga,” ujar Ketua RW 07 Pekayon, Sarbidin, saat ditemui.
Pengevakuasian 15 orang pertama dilakukan sekitar pukul 19.00 WIB oleh Gulkarmat Kelurahan Pasar Rebo. Di antara warga yang dievakuasi, terdapat beberapa orang yang sedang sakit dan balita.
“Ada juga kondisi yang lagi sakit, termasuk mengalami stroke. Ya ada anak kecil bayi,” tambah Sarbidin.

Sarbidin menjelaskan alasan evakuasi terhadap mereka dilakukan karena kondisi rumah yang tidak memiliki lantai dua. “Kondisi karena rumah tidak tingkat, jadi mengungsi,” katanya.
Sementara itu, pada pukul 22.43 WIB, pengevakuasian kedua dilakukan kepada 13 warga oleh anggota TNI Batalyon 201. Di antara warga yang dievakuasi, tujuh orang dewasa dan enam balita.
Sesampainya di tepi banjir, mereka segera berbondong-bondong turun diiringi isak tangis balita yang digendong. Salah satu warga, Sri (50) mengungkapkan bahwa kediamannya tergenang oleh banjir setinggi pinggang orang dewasa atau sekitar 90 sentimeter.
“Sedada di luar (rumah), tapi di rumah ya segini, sepinggang lebih,” ucapnya sambil menunjukkan pakaiannya yang basah kuyup.
Sri mengatakan banjir telah masuk ke rumahnya sejak sekitar pukul 15.30 WIB. Oleh karena itu, ia meminta untuk dievakuasi pada pukul 18.00 WIB. “Setengah 4 mulai masuk rumah ya. Makanya kita pesan tadi itu (pengevakuasian) dari Maghrib, baru dateng itu,” katanya.

Sri pun menjelaskan bahwa banjir masuk ke kediamannya secara tiba-tiba dan tak dapat dibendung. Di tengah kondisi itu, meskipun rumahnya terdapat lantai 2, tak banyak yang bisa dilakukannya. “Iya langsung begitu masuk rumah langsung udah segini langsung naik ke atas saya. Di atas (lantai 2) kan nggak ada air, listrik mati, jadinya udah nggak bisa ngapa-ngapain. Mau makan nggak bisa, mau minum nggak bisa,” tutur Sri.
“Jadi airnya itu gak bisa ditunda gitu entar-entar gitu, gak bisa. Pokoknya begitu hujan besar langsung bles, langsung masuk ke rumah-rumah,” imbuhnya.
Akibat air yang menggenangi kediamannya, Sri beserta tujuh anggota keluarganya pun harus menahan lapar. Air yang mendadak masuk tak memberikan waktu baginya bahkan sekadar untuk membawa makanan. “Kan makanan di bawah semua, udah kena air semua. Jadi gak sempet membawain ke atas. Udah langsung kan cepet-cepet. Udah kulkas, mesin cuci, makanan semua udah pada banyak kerendam,” ungkap Sri.
Sri mengaku banjir semacam ini baru pertama kali menimpa kediamannya ini. Ia pun berharap pemangku kepentingan setempat dapat memerhatikan warganya yang terdampak banjir. “Jadi RT RW setempat itu harus mengetahui rakyatnya tuh seperti apa, udah makan apa belum gitu harus ngecek-lah,” ucap Sri.
Ia juga berharap agar penyebab banjir segera ditemukan dan dicarikan solusinya. Sebab ia merasa heran karena banjir yang tiba-tiba mendadak masuk ke rumahnya setelah sekian lama ia bermukim di sini. “Terus cari penyebabnya itu kayak apa kok bisa air langsung masuk ke rumah itu. Cepet-cepet diperbaiki jangan sampai air itu masuk ke rumah,” harap Sri.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”











