My WordPress Blog
Daerah  

PMI Majalengka Meninggal di Kamboja, Pemkab Minta Jenazah Segera Dikembalikan

Pemerintah Kabupaten Majalengka Berupaya Mempercepat Penanganan Kematian Deri, Pekerja Migran di Kamboja

Pemerintah Kabupaten Majalengka terus bergerak dalam menangani kasus kematian Deri (25), seorang pekerja migran asal Desa Garawastu, Kecamatan Sindang, yang meninggal dunia di Kamboja. Koordinasi dengan pemerintah pusat dan perwakilan Indonesia di luar negeri sedang dilakukan untuk mempercepat penanganan kasus ini, termasuk proses pemulangan jenazah korban.

Bupati Majalengka, Eman Suherman, menyampaikan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk mempercepat tindakan terkait kasus tersebut. Ia mengatakan, meskipun kewenangan pemerintah daerah dalam kasus pekerja migran di luar negeri terbatas, Pemkab tetap berupaya maksimal melalui jalur koordinasi dan administrasi.

“Ya, kami sedang berkoordinasi dengan KBRI. Kalau kami hanya bisa bersurat, kami harap agar segera berpulang,” ujar Eman, pada 6 Mei 2026.

Selain itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan, Koperasi, dan UKM (DK2UKM) Majalengka, Arif Daryana, juga menyampaikan bahwa pihaknya telah meminta bantuan ke sejumlah instansi terkait, seperti BP2MI, Kementerian Luar Negeri, hingga berkomunikasi dengan BP3MI dan KBRI.

Keluarga Korban Menanti Kejelasan

Sementara itu, keluarga korban di kampung halaman masih menanti kepastian tentang kondisi Deri. Mereka berharap pemerintah dapat membantu memulangkan jenazah agar bisa dimakamkan di tanah kelahiran.

Harapan besar seorang anak muda untuk mengubah nasib keluarga harus terhenti di negeri orang. Deri (25), warga Desa Garawastu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, dilaporkan meninggal dunia di Kamboja setelah sempat mengaku dikejar-kejar oleh rekannya.

Kabar duka itu mengejutkan keluarga. Pasalnya, Deri baru sekitar dua bulan bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI). Dalam komunikasi terakhirnya, ia sempat menghubungi orang tua dan mengabarkan tengah melarikan diri karena merasa terancam.

“Dia bilang lagi kabur, takut, katanya dikejar-kejar,” kata ayah korban, Ismail, di lokasi, Minggu (5/4/2026).

Menurut Ismail, kepergian Deri ke luar negeri bukan tanpa alasan. Ia berangkat dengan tekad kuat untuk membantu perekonomian keluarga, sekaligus mewujudkan cita-citanya menyekolahkan dan memesantrenkan adik kesayangannya.

Selama perjalanan menuju Kamboja, Deri rutin memberi kabar kepada keluarga. Ia sempat transit di Malaysia dan Vietnam sebelum akhirnya tiba di negara tujuan. Di Kamboja, Deri bekerja di sebuah barber dan tinggal di mess bersama sesama warga negara Indonesia.

Namun situasi berubah saat ia ingin berpindah pekerjaan. Keluarga menyebut, Deri sempat meminta izin kepada rekannya bernama Jonkey untuk bekerja bersama kenalan barunya, Budi. Meski sempat dilarang, Deri tetap memilih pindah.

Tak lama setelah itu, ia kembali menghubungi keluarga dan mengatakan dirinya kabur dari tempat kerja barunya. Dua hari berselang, kabar paling menyayat datang. Deri ditemukan tergeletak di pinggir jalan dalam kondisi sudah meninggal dunia.

Permintaan Keluarga

Sang ibu, Oom, tak mampu menyembunyikan kesedihan mendalam atas kepergian anaknya. “Kami ingin ada kejelasan. Anak kami pergi baik-baik, pulangnya sudah tidak bernyawa,” ucapnya.

Kini, keluarga berharap pemerintah dapat membantu mengungkap kejadian yang menimpa Deri serta memfasilitasi pemulangan jenazah ke kampung halaman di Majalengka.


Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *