Jakarta: Kota yang Terus Berkembang, Tapi Masih Ada Sisi Gelap
Jakarta terus berubah dan berkembang sepanjang tahun 2025. Kota ini semakin menunjukkan kemajuan dengan bertambahnya gedung-gedung pencakar langit, transportasi umum yang semakin terintegrasi, serta ruang publik yang terus diperbaiki. Namun, di balik megahnya kota ini, masih ada realitas yang tidak bisa diabaikan. Kemiskinan, sanitasi buruk, serta warga yang tidak memiliki hunian layak menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta.
Gang Kelinci, Kemanggisan: Sanitasi yang Tak Layak
Di Gang Kelinci, Kemanggisan, Jakarta Barat, kondisi sanitasi sangat memprihatinkan. Di tengah kompleks perumahan elite, ratusan warga tinggal dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Selama puluhan tahun, mereka hanya mengandalkan bilik kayu sederhana yang berdiri di atas aliran Kali Inspeksi/Sekretaris untuk buang air besar (BAB).
Mayoritas warga tidak memiliki septic tank, sehingga harus membawa ember sendiri, jongkok di atas papan berlubang, dan membiarkan kotoran jatuh langsung ke sungai yang mengalir di bawah kaki mereka. Amsor (30), salah satu warga, menyebut bahwa banyak rumah di gang tersebut tidak dilengkapi dengan WC karena tidak adanya lahan untuk septic tank.
Ketua RT 07 RW 03 Kemanggisan, Mia, menjelaskan bahwa wilayahnya merupakan RT terpadat di seluruh Kelurahan Kemanggisan. “Kita tuh (rumah) 15 meter aja larinya ke atas (bangun rumah). Jadi kebentur tanah, lahan, tempat, enggak ada lahan buat septic tank,” ujar Mia.
Akibat ketiadaan lahan itu, warga yang tidak memiliki WC terpaksa bergantung pada bilik-bilik darurat yang berdiri tepat di atas aliran Kali Inspeksi. Meski program perbaikan sanitasi dari pemerintah tersedia dan gratis, program tersebut tidak bisa berjalan karena tak adanya lahan yang bisa digunakan sebagai tempat pembuatan septic tank.
Solusi baru akhirnya hadir di pengujung tahun 2025, karena adanya inisiatif warga yang menghibahkan tanahnya untuk dibangun septic tank komunal.
Kampung Pasar Pisang: Kehidupan dalam Kegelapan
Potret miris lainnya terekam di Kampung Pasar Pisang, Taman Sari, di mana kepadatan penduduk sangat terasa dengan satu RT dihuni oleh lebih dari 200 Kepala Keluarga (KK). Bangunan rumah berdiri tumpang tindih antara bantaran rel kereta api dan lorong gang di bawahnya.
“Kalau sekarang, satu RT itu di RT 07 RW 01 sini kayaknya 200 KK (kartu keluarga) mah ada. Dulu, pas sebelum kolong tol digusur, lebih banyak lagi,” ujar Windi, salah satu warga saat ditemui di lokasi.
Akibatnya, lorong-lorong hunian warga menjadi gelap gulita selama 24 jam karena sinar matahari tak mampu menembus atap-atap yang saling bertumpuk. Warga hidup dalam suasana kampung yang gelap dan lembap, sehingga harus menyalakan lampu sepanjang hari.
Dapur-dapur warga berada di sisi jalan dalam lorong gang sempit, menjadi pemandangan unik di sepanjang perjalanan menyusuri kampung. Pada beberapa titik, terdapat celah yang membuat sinar matahari masuk ke dalam perkampungan saat siang hari. Momen itu pun dimanfaatkan oleh para warga untuk menjemur baju mereka.
Percakapan antar-tetangga bahkan kerap terhenti paksa sejenak, kala kereta melintas tepat di atas rumah mereka dengan suara memekakkan telinga. Warga tak memiliki pilihan lain, hunian di Kampung Pasar Pisang adalah satu-satunya lokasi yang mampu dijangkau.
Namun, kondisi kehidupan di dalam gelap dan suasana lembap disertai banyaknya titik genangan air membuat warga juga rentan terkena penyakit. Masalah kian pelik dengan banyaknya warga pendatang tanpa identitas yang kesulitan mengakses layanan kesehatan seperti BPJS.
Kampung Tongkol: Kehidupan dalam Kegelapan
Di Kampung Tongkol, Kelurahan Ancol, Jakarta Utara, suasana gelap juga menjadi bagian keseharian warga selama bertahun-tahun. Lorong-lorong selebar 1,5 meter menjadi satu-satunya jalur warga berlalu-lalang, diapit dinding bata yang menempel rapat tanpa celah.
Di antara tembok-tembok itu, jemuran pakaian menggantung lembap karena tak tersentuh sinar matahari. Getaran dan bising kereta sudah menjadi ritme hidup harian.
“Enggak sih, (kami) beradaptasi dengan lingkungan sangat baik. Kami di sini kekeluargaan, saling membantu. Justru dengan kampung unik seperti ini kan kami saling membantu,” kata Tias (54), warga yang sudah tinggal lebih dari dua dekade.
Tias pindah dari Kampung Sumur, Klender, ke Kampung Tongkol demi mendekatkan diri dengan tempat kerja suaminya di Taman Sari, Jakarta Barat. “Waktu itu kan ayahnya ini kerjanya jauh, di Taman Sari. Nah, pas itu kan ada teman nawarin kontrakan. Ini setahun cuma kena Rp 1,4 juta. Itu satu tahun. Saya senang sekali ya, saya coba-cobalah,” ujarnya.
Seiring waktu, rumah kontrakan itu akhirnya bisa ia beli. “Alhamdulillah rumah itu (sekarang) kebeli sama saya sendiri. Jadi sampai saat ini,” ujarnya.
Hidup di Kolong Beton Grogol
Bergeser ke arah Grogol, sisi gelap Jakarta lainnya terlihat jelas di bawah kolong flyover yang berlokasi di Jalan Dr. Makaliwe. Di saat kendaraan mewah melintas cepat di atas jalan layang, di bawahnya terdapat sekelompok warga yang menjadikan debu dan bising klakson sebagai teman tidur.
Mereka adalah para perantau, mayoritas bekerja sebagai tukang gali dan buruh kasar, yang menjadikan kolong jembatan sebagai tempat mangkal sekaligus rumah. Rukiman (48), salah satu penghuni, mengaku tetap bertahan di sana meski berbulan-bulan tidak mendapat pekerjaan di tahun 2025.
Badannya yang kurus membuat sejumlah tulang di badannya tampak kasat mata, bersama dengan kulit cokelatnya yang terlihat terbakar teriknya matahari. Tidur beralaskan kardus dan tikar tipis bekas yang diperoleh dari tukang rongsok menjadi pilihan logis demi menghemat biaya hidup di ibu kota.
Meskipun begitu, tidak ada sedikit pun perlawanan dari para tukang gali Grogol, hanya kepasrahan yang terdengar. “Semenang-menangnya kalau melawan negara, tetap pasti akan kalah. Harus ngapain juga saya enggak tahu. Saya cuma bisa ngikut aja,” katanya pasrah.
Suwandi (47), penghuni kolong flyover Grogol lainnya mengaku masih memiliki harapan agar pemerintah memperhatikan mereka dan menyediakan ruang hidup yang lebih layak. Namun, ia mengaku tidak pernah merasa diperhatikan, sehingga tidak heran apabila akan tergusur proyek penataan ulang tanpa ada sorot mata pemerintah yang melirik nasib mereka.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











