My WordPress Blog
Daerah  

12 Jam Jakarta-Kuningan Tanpa Sinar Matahari



Kata-kata seperti “tidak ada foto hoaks” mungkin akan menjadi komentar dari pembaca terhadap tulisan ini. “Katanya laporan perjalanan. Mana fotonya? Hoaks, ya.”

Terserah kamu mengatakan apa saja. Aku tidak peduli.

Faktanya, pada hari Kamis tanggal 22 Januari 2026, aku berada dalam kelompok lima orang kerabat yang naik mobil untuk pergi-pulang antara Jakarta dan Kuningan, Jawa Barat. Kami melewati jalan tol Japek dan Cipali, tentu saja.

Namun sepanjang hari itu, mulai pukul 06.00 hingga 18.00 WIB, cuaca selang-seling antara hujan dan mendung. Tidak ada sinar matahari sepanjang hari.

Jadi, apakah aku harus mengambil foto hujan deras di luar jendela saat kendaraan kami melintasi jalan tol layang MBZ? Apakah kamu kekurangan hujan hari-hari ini?

Atau apakah aku harus mengambil foto langit yang gelap dan mendung? Kurang mendung apa hidupmu akhir-akhir ini?

Sudahlah. Percayalah. Aku benar-benar pergi-pulang Jakarta-Kuningan pada hari itu.

Tapi matahari tidak bisa menjadi saksi. Dia tidak menampakkan diri sepanjang hari. Bahkan sekadar mengintip dari lubang awan pun tidak.

Secangkir Kopi di Rest Area 166-A

Aku lebih banyak memejamkan mata sepanjang jalan tol. Terutama sepanjang tol Japek.

Bilah-bilah curah hujan yang rapat telah menjadi tirai. Mereka sempurna menghalangi pandangan ke luar mobil.

Namun aku tidak merasa rugi. Dulu aku sering setiap hari melintasi tol Japek, bolak-balik dari rumah ke sawah dan sebaliknya. Sudah hafal pemandangan di kedua sisi jalan tol.

“Kita istirahat sebentar,” kata saudaraku yang bertugas mengemudi.

Ah, ternyata sudah tiba di Rest Area 166-A Cipali, Jatiwangi Majalengka. Kami memang selalu mampir di sini setiap kali bepergian ke Kuningan.

Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 WIB. Hmm, dua jam perjalanan dari Jakarta. Hujan telah memperlambat laju kendaraan kami.

Tugas utamaku di rest area ini adalah mengencingi toilet rest area. Toilet laki cukup bersih. Ada seorang petugas yang setia membersihkannya.

Saat itu hanya diriku yang kencing di toilet. Aku sempat berpikir, “Untuk apa sebegitu banyak urinoir menempel di dinding kalau yang kencing cuma diriku seorang?”

Itu seperti memasang puluhan perangkap burung tapi hanya seekor yang tertangkap. Mubazir, kan?

Setelah kencing, tugas susulan adalah minum secangkir kopi Bang Haji. Entah Bang Haji siapa, aku gak tahu. Dan gak mau tahu juga. Malas kepo.

Lebih penting dari siapa Bang Haji itu adalah bagaimana kopinya. Aku selalu pesan kopi hitam, kopi lelaki. Pemanisnya gula aren, dipisah. Seperti biasa, aku gak pernah campurkan ke dalam kopi. Cuma jadi pemanis saja di samping cangkir.

Mengapa tidak pakai gula? Hei! Seorang lelaki tak pantas mengaku laki kalau minum kopi pakai gula. Apalagi campur susu. Bah, laki apaan, tuh.

Kami duduk meriung di gazebo kecil di depan kedai kopi Bang Haji. Sambil menyeruput kopi pahit yang, jujur, rasanya benar-benar kopi sejati, aku memandangi hamparan persawahan di seberang jalan tol.

Aku melempar pandangan jauh ke selatan. Di sana, di bawah selimut kabut putih, tampak samar lereng Gunung Cakrabuana, Tasikmalaya. Geser pandangan ke barat, tampak potongan lereng Gunung Tampomas, Sumedang berkerudung awan. Kedua gunung itu tampak membiru. Mungkin kedinginan, ya.

Secangkir kopi hitam Bang Haji tinggal sepah halus. Saatnya melanjutkan perjalanan menuju Kuningan.

Lewat Pabrik Bolpoin Zebra

Keluar tol Palikanci, belok kanan, langsung menanjak menuju Kuningan. Tujuan akhir bukan ke kotanya, tapi ke Jalaksana, sebuah kecamatan di kaki timur Gunung Ciremai.

Tiba di Tugu Ikan Kuningan, Cilimus, kami belok kiri mengambil jalan lingkar Sampora-Cilimus-Panawuan. Ini jalur “lancar” ke kota Kuningan. Lazim disebut “jalan baru”.

Belum terlalu jauh dari Tugu Ikan, mungkin ikan kancra khas Cibulan, di sebelah kanan ada kompleks industri PT Zebra Asaba Industries.

Kalau dirimu punya koleksi alat tulis merek Zebra, nah, itu diproduksi di sana. Tadinya pabrik itu berada di Jakarta (sejak 1994), kemudian relokasi ke Kuningan (2918).

“Apakah bisa masuk lihat-lihat ke dalam sana?” pikirku.

Aku teringat, dulu pernah ke Pati dan berkunjung ke ruang pamer PT Dua Kelinci. Lumayanlah. Bisa baca-baca display sejarah, lihat-lihat aneka produk, dan beli aneka produk kekacangan di situ.

Aku langsung browsing internet. Hore! Ternyata Zebra membuka diri untuk tur pabrik dan ruang pamer. Tapi harus daftar daring lebih dahulu.

Baiklah. Lain kali kalau ke Kuningan, kami akan mampir di pabrik bolpoin Zebra itu.

Ke Sawah Menghirup Udara Gunung

Tiba di kampung tujuan di Jalaksana, kami langsung menyebar. Masing-masing sudah punya agenda sendiri. Panen buah-buahan, giling padi, ngobrol dengan kerabat, dan sebagainya.

Aku dan istri pergi ke sawah. Kami mau periksa pertanaman. Musim ini para penyakap harus tanam padi. Kalau bandel tanam bolet, ubi jalar, harus ditegur.

Cuaca agak mendung. Tak ada matahari. Suhu udara dingin. Angin gunung bertiup membawa uap air.

Kami berdua berdiri di tengah areal persawahan. Hanya istriku dan aku. Seakan kami dewa-dewi sawah. Atau seakan hamparan luas sawah itu milik kami berdua. Tidakkah dirimu iri hati?

Semua sesuai rencana. Sawah itu baru ditanami padi. Beberapa petak belum ditanami. Tapi sudah siap tanam.

Baguslah. Berarti April nanti kami akan ke sawah lagi. Panen.

Udara sawah itu sungguh segar. Khas udara gunung. Kami menghirupnya sebanyak mungkin. Paru-paru kami berterimakasih.

Ah, angin gunung Ciremai bertiup membawa butir-butir halus air. Menebarkan rinai halus di atas hamparan padi muda. Mengelus wajah kami, menaburkan butir-butir air halus di rambut kami.

Ah, romantis sekali. Tapi kami sudah lansia. Tidak boleh lama-lama berada dalam tiupan angin dan sentuhan renai. Nanti masuk angin.

Kami berlari-lari kecil di pematang sawah. Berkejaran dengan rintik gerimis yang mulai turun. Kami harus cepat tiba di rumah.

Ah, jangan bayangkan ada adegan terpeleset. Semisal istriku terpeleset di pematang sawah, lalu aku menangkap pinggangnya dari belakang. Lansia tak se-sweet itulah.

Kami berdua tiba di rumah tepat saat gerimis berhenti. Jadi untuk apa tadi kami lari-lari, ya.

Ayam Goreng Palinggihan

Saatnya kembali ke Jakarta. Walaupun hujan menghadang.

Tapi tunggu dulu. Belum makan siang. Kami putuskan mampir di Rumah Makan Palinggihan.

Itu rumah makan langganan kami. Terletak di tepi Jalan Raya Cirebon – Kuningan, Beber. Biasa mampir di situ dalam perjalanan pulang ke Jakarta.

Sebenarnya banyak restoran dan rumah makan sepanjang jalan raya Cirebon – Kuningan. Tapi lidah sudah kadung terbelit di Palinggihan.

Siang itu Palinggihan rada lengang. Mungkin karena hari biasa dan belum puncak waktu makan. Kalau akhir minggu atau hari libur, siap-siap saja gak dapat meja. Kecuali tahan antre sambil kelaparan.

Lauk Palinggihan cukup beragam. Tapi jagoannya menurutku ayam goreng dan pepes dage, dilengkapi petai bakar, lalapan dan sambal dadak. Itu sudah! Lidah dan lambung langsung bahagia sejahtera.

Itulah yang terjadi denganku siang itu. Sedap dan kenyang.

Saat mobil meluncur turun ke Cirebon, lalu melaju masuk ke jalan tol Cipali, kantukku tak tertahankan lagi. Hujan di luar, kabin mobil berpendingin, lengkap sudah prakondisi terlelap.

Alangkah nikmatnya menjadi penumpang berperut kenyang.

Hujan Lebat di Jakarta

Tak ada hal yang perlu kuceritakan sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta. Hujan dan mendung silih berganti. Seperti ngantuk dan tidurku yang silih berganti juga.

Kadang sebuah perjalanan ada baiknya seperti itu. Duduk di mobil, ngantuk, tidur, bangun sebentar, ngantuk, lalu tidur lagi.

Jarum arlojiku menunjuk angka 17.30 WIB saat mobil kami memutar balik di perempatan RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Nomor polisi mobil kami ganjil. Tak bisa lewat Jalan Fatmawati ke utara. Harus lewat Jalan Antasari.

Hujan turun lebat. Jakarta berendam.

“Wah, di sini gak hujan,” saudaraku bersorak dari belakang setir saat mobil melintasi Jalan Antasari.

“Iyalah, bego. Kita kan berada di bawah jalan layang non-tol.” Istriku menyahut sambil tertawa.

Tepat pukul 18.00 WIB, mobil kami berhenti di depan rumah. Tiba juga akhirnya.

Sebuah perjalanan 12 jam usai sudah. Tanpa matahari.

Begitulah. Kami pergi tak diantar keindahan matahari terbit. Pulang pun tak disambut indahnya matahari terbenam.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *