My WordPress Blog
Daerah  

Warung Surabaya Beri Makanan Gratis untuk Mahasiswa Terdampak Bencana



SURABAYA,

— Di tengah keramaian jalanan di daerah Ketintang Surabaya, terdapat deretan kos mahasiswa yang berjejer dengan warung-warung kecil hingga minimarket. Tempat ini menjadi tempat singgah bagi banyak anak rantau yang sedang menempuh pendidikan di kota tersebut.

Di antara keramaian itu, sebuah rumah makan sederhana yang buka selama 24 jam bernama Warung Makan ARFA, yang beralamat di Jl Ketintang Nomor 164, Surabaya, Jawa Timur, tiba-tiba menjadi sorotan. Di depan warung makan tersebut terpampang banner yang berisi pesan luar biasa.

“Teman-teman mahasiswa/i asal ACEH, SUMUT, dan SUMBAR yang sedang kuliah di Surabaya, jika kalian belum menerima kiriman dari keluarga karena sedang terkena musibah, sementara uang simpanan mulai menipis, silahkan ambil makanan di warung ini,” tulisan dalam banner tersebut.

Arfan, 19 tahun, putra pemilik sekaligus kasir warung makan, masih mengingat kejadian pada Sabtu pagi ketika seorang mahasiswi tak dikenal datang membawa rencana yang tidak biasa.

“Dia datang, minta tolong cetakin banner. Terus nitip uang, bilang untuk dibagikan saja. Saya cuma diberi amanah buat membantu mahasiswa yang kirimannya dari orang tua belum bisa sampai,” cerita Arfan sambil tersenyum tipis.

Mahasiswa itu datang pagi-pagi sekali, berbicara sebentar dengan ibu Arfan, lalu pergi tanpa meninggalkan kontak. “Dia cuma bilang, kalau uangnya habis, mungkin dia bakal datang lagi.”

Warung makan tersebut kemudian menjadi tempat bernaung bagi siapa pun yang keluarganya sedang dihantam bencana. Mulai dari mahasiswa Aceh, Sumatera Barat, hingga mereka yang keluarganya terdampak erupsi gunung Semeru di Lumajang.

Meski hingga hari ketiga belum ada satupun mahasiswa korban bencana yang datang, Arfan tetap menyiapkan porsi gratis setiap hari. “Kalau cuma Aceh, Sumatera sama Sumbar, rasanya nggak enak ya. Kan ada yang dari Lumajang juga. Jadi saya ikutkan sekalian,” ujarnya.

Berawal dari Bantuan

Di balik aksi kecil namun bermakna itu, ternyata ada dua penggerak muda, yakni R, seorang mahasiswi Unesa Lidah Wetan, dan P, seorang rekan yang saat ini berada di luar negeri. Keduanya sepakat untuk tidak menuliskan identitas lengkap, bukan karena takut disorot, tetapi karena niat mereka murni ingin membantu.

R bercerita bahwa gagasan itu muncul setelah melihat derasnya kabar bencana di Sumatera dan Aceh lewat TikTok dan Instagram Story. “Meski aku nggak punya teman atau keluarga di daerah terdampak, rasanya sedih dan khawatir. Pure bukan salah mereka, tapi mereka yang kena,” tutur R saat dihubungi.

Dari kesedihan itu tumbuh keinginan untuk bergerak. Banyak akun media sosial membagikan aksi makan gratis, dan dari situ R dan P terdorong untuk ikut berbuat hal yang sama. “Kami tidak mau diam. Kami ingin melakukan sesuatu meski sederhana,” ucap R.

Ide awalnya datang dari P. Meski sedang di luar negeri, P merasa perlu terlibat. Ia menghubungi R, meminta bantuan untuk riset kampus serta mencari warung yang bisa diajak bekerja sama. “Dia punya ide yang solid, tapi kurang akses buat eksekusi. Dia reach out ke saya. Bisa dibilang, dia otaknya dan saya badannya,” kata R.

Mereka lalu memilih Warung ARFA karena lokasinya strategis, dekat dengan mahasiswa Unesa dan Telkom, dua kampus yang banyak dihuni mahasiswa rantau dari Sumatera. Saat datang ke warung, R sempat melihat pemilik warung kebingungan. Namun setelah ia menjelaskan maksud kedatangannya, semuanya berubah.

“Ibunya memutuskan buat membantu memperbesar aksi kami. Katanya, kalaupun dana dari kami habis, beliau tetap akan berbagi makanan gratis selama sebulan ke depan,” ungkap R bercerita. Kepercayaan itu membuat R yakin bahwa amanah mereka tidak salah tempat.

“Niat kami tulus. Kami percaya pemilik warung juga amanah. Semua berjalan dari niat, dan kami ikhlas membantu sebisa kami.” katanya penuh keyakinan.

Hingga saat ini, Arfan masih menunggu. Setiap kali ada mahasiswa baru masuk, ia selalu memperhatikan, berharap mungkin salah satunya datang untuk mengambil hak yang disediakan khusus untuk mereka. “Ya rasanya senang kalau kami diajak kerja sama untuk bantu-bantu dalam musibah seperti ini,” kata Arfan sambil tersenyum senang.

Ia juga berharap semakin banyak orang yang mengetahui program ini. “Biar mahasiswa yang memang membutuhkan bisa datang. Kami siap bantu semampunya.” imbuhnya penuh harap.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *