Tradisi Mandoa di Huntara Batu Busuak, Padang
Di tengah kondisi yang masih penuh duka akibat bencana banjir bandang, warga yang tinggal di hunian sementara (huntara) di kawasan Batu Busuak, Kelurahan Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, menggelar tradisi mandoa. Tradisi ini menjadi bentuk doa dan harapan agar mereka terhindar dari marabahaya.
Mandoa adalah ritual keagamaan dan budaya yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau, yang bertujuan untuk memohon keselamatan dan perlindungan dari Tuhan. Dalam tradisi ini, warga menyiapkan berbagai hidangan sebagai persembahan sebelum melakukan pembacaan doa. Ritual ini biasanya dipimpin oleh pemuka agama setempat.
Lokasi Huntara yang Terletak Dekat Aliran Banjir
Huntara tersebut berada tidak jauh dari aliran banjir bandang yang terjadi di Kapalo Koto. Namun, lokasinya lebih aman karena mengarah ke perbukitan. Untuk mencapai lokasi, warga dapat melewati jalan kecil yang beraspal, sebelum memasuki jembatan antara Kelurahan Kapalo Koto dengan Kelurahan Lambung Bukit di kawasan Batu Busuak.
Menu yang Disajikan Saat Mandoa
Pada acara mandoa, warga menyajikan beberapa hidangan seperti gulai nangka, goreng ikan, gulai ikan, dan gulai ayam. Endra Wati, salah satu penghuni huntara, menjelaskan bahwa semua hidangan disiapkan secara bersama-sama oleh warga.
“Kami bergotong royong untuk memasak,” ujar Endra. “Semua menu ini disajikan sebagai bentuk rasa syukur dan doa kepada Tuhan.”
Acara mandoa akan dilaksanakan setelah salat magrib. Dalam acara ini, seluruh warga yang tinggal di huntara juga turut serta.
Penghuni Huntara yang Sudah Tinggal Selama 20 Hari
Warga Kelurahan Kapalo Koto sudah tinggal di huntara selama sekitar 20 hari pasca bencana banjir bandang. Banjir bandang terjadi dua kali di kawasan Batu Busuak, yaitu di Kelurahan Lambuang Bukit dan Kelurahan Kapalo Koto pada Kamis (27/11/2025). Setelah kejadian kedua tersebut, pemerintah menyediakan dua bangunan huntara.

Setiap bangunan terdiri dari lima kamar, dengan total 10 kamar yang dihuni oleh 10 keluarga. Total jumlah penghuni di huntara tersebut mencapai sekitar 40 orang. Meskipun dibuat sederhana, huntara ini lebih layak ditinggali dibandingkan tenda pengungsian.
Kebersamaan di Hunian Sementara
Endra Wati mengatakan bahwa di huntara ia bisa merasakan kebersamaan dengan warga lainnya. Mulai dari tidur, makan, hingga berkegiatan sehari-hari dilakukan bersama-sama.
“Saya merasa nyaman di sini karena bisa bersama-sama dengan keluarga dan masyarakat lainnya,” ujarnya. “Meski tidak se nyaman rumah sendiri, kebutuhan di sini cukup lengkap.”
Asna, salah satu penghuni lainnya, juga merasa senang tinggal di huntara. Ia telah tinggal di sana selama 20 hari pasca bencana. Meski begitu, ia tetap berharap bisa mendapatkan hunian tetap dari pemerintah.

“Tentunya saya berharap ada rumah tetap, karena tidak mungkin tinggal di sini selamanya,” ujarnya.
Kondisi di Huntara Saat Ini
Saat ini, warga yang tinggal di huntara tampak sibuk memasak dan berinteraksi satu sama lain. Mereka ramah dan terbuka saat dimintai keterangan. Anak-anak di sana juga terlihat bahagia meski dalam kondisi bencana. Mereka bermain mobil-mobilan bersama teman sebayanya.











