AMBON,
Jauh di pelosok Pulau Seram Provinsi Maluku terdapat sebuah dusun kecil yang memiliki hasil tanah terbaik. Dusun ini tumbuh di tengah keterbatasan akses internet dan teknologi. Nama dusun tersebut adalah Dusun Waitoso, Desa Kawa, Kecamatan Seram Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku.
Pulau Seram dikenal dengan nama Nusa Ina atau Pulau Ibu. Nama ini menyimpan makna filosofi mendalam bagi orang Maluku. Di atas tanah Seram, tumbuh berbagai kekayaan hasil alam seperti ladang, hutan, laut, dan udara. Sebagai pulau terbesar di Maluku, Seram memberi banyak penghidupan bagi masyarakatnya. Sama halnya dengan ibu, Seram sebagai penyedia sekaligus penjaga. Maka tak heran dari pesisir hingga pelosoknya, mengeluarkan kesuburan, tanah yang menjanjikan.
Salah satu contohnya adalah Dusun Waitoso, Desa Kawa. Masyarakat di sana benar-benar menggantungkan hidupnya pada hasil tanah. Berbekal pengalaman dan pengetahuan seadanya yang terus berkembang, masyarakat Waitoso menjadi salah satu petani padi unggul. Petani di sana memanfaatkan pengetahuan yang diwarisi secara turun temurun soal bertani.
Mayoritas dari mereka merupakan transmigran asal Pulau Jawa, sehingga sudah khatam ilmu menanam padi. Dilengkapi dengan tata cara penggunaan pupuk yang tepat. Meskipun, Dusun Waitoso merupakan satu-satunya wilayah di Indonesia yang nyaris minim koneksi internet dalam mengakses pupuk berkualitas.
Supandi, petani sekaligus ketua Gapoktan Dusun Waitoso, mengaku tanaman padi dari wilayahnya begitu subur dan menjadi sumber utama mata pencarian warga. “Tanah di sini subur, juga kami gunakan pupuk Indonesia yang baik agar hasilnya maksimal. Iya, di sini sinyal susah sekali untuk kami bisa terhubung internet. Sebab permintaan pupuk harus dilakukan online,” katanya melalui pesan singkat, beberapa waktu lalu.
Untuk mengakses pupuk sebagai pendukung hasil sawah, menurut dia, para petani harus memasukkan permintaan jumlah pupuk melalui aplikasi yang dimiliki Pupuk Indonesia secara online. Tujuannya agar detil distribusi pupuk tepat sasaran sesuai jumlah kebutuhan dan sampai ke tangan petani tepat waktu.
Hanya saja, Supandi mengatakan, mereka tidak dapat melakukan input permintaan pupuk secara real time. Penginputan baru dilakukan setelah petani berjalan mencari lokasi dengan sinyal stabil meskipun minim. Supandi menceritakan, untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, mereka harus mencari lokasi dengan sinyal kuat di gudang pupuk, atau sekitar 300 meter dari lokasi awal.
“Kami di Waitoso susahnya itu Sinyal. Untuk bisa dapat pupuk subsidi kan harus kasi masuk input online. Kadang sinyal macet jadi cari di tempat lain biar permintaan pupuk subsidi tercatat. Itu kendala kami,” ujarnya.
Terbantu Sistem Offline
Beruntungnya, menurut Supandi, belum pernah ada kejadian keterlambatan pengiriman pupuk. Dia pun berupaya agar stok pupuk cukup dan jarak penginputan data tidak mepet waktu. Dia juga mengatakan, para petani dikenalkan dengan sistem penginputan offline pada situs Cinta E RDKK yang dikelola oleh Kementerian Pertanian (Kementan). Sistem kerjanya, data permintaan masuk secara online setelah gawai terkoneksi dengan jaringan internet.
Tak hanya itu, Supandi menyebut bahwa dirinya terbantu dengan adanya para supplier pupuk subsidi yang proaktif mendatangi langsung Dusun Waitoso sekaligus memandu penggunaan fitur input data untuk menjembatani kendala petani di sana.
Ketersediaan pupuk, dikatakannya menjadi kunci keberhasilan tiga kelompok tani di Waitoso, yakni Kelompok tani Sido Makmur, kelompok tani Sukamaju, dan kelompok tani Sumber Rejeki. Supandi pun menyebut, hasil gabah kering giling dihargai petani sebesar Rp 6.500 per kilogram. Sementara beras Rp 13.000 per kilogram.
Beras dari Waitoso mereka jual di desa tetangga. Seperti di Pulau Osi, Pelita, Kawa, Pohon Batu, Piru, Tamang Jaya hingga Wael. Karena lokasi yang jauh dari pusat kabupaten, keberadaan padi Waitoso menjadi salah satu penyangga pangan bagi Desa-desa di sekitar.
Meskipun, diakui Supandi bahwa keterbatasan sinyal terus menjadi mimpi buruk petani. Menurut dia, cuaca buruk dan koneksi internet yang mati total, bisa membuat akses pupuk subsidi berkualitas terhambat.
Sinyal Jadi Kendala dan Harapan
Menurut Darma Prasetya selaku Account Executive PT Pupuk Indonesia Maluku, Dusun Waitoso menjadi satu-satunya wilayah distribusi Pupuk Subsidi di Indonesia yang susah Sinyal. “Kecamatan Seram Barat, Dusun Waitoso, mereka gunakan pupuk untuk tanaman sawah padi. Tapi itu tantangannya, sinyal susah,” kata Darma.
“Susah Sinyal, sering hilang. Jadi petani mau beli harus nunggu sinyal. Solusinya input offline sampai ada sinyal baru terkoneksi online,” ujarnya melanjutkan. Padahal, menurut Darma, 90 persen aktivitas sistem distribusi pupuk subsidi dilakukan secara online. Dengan kata lain, semua bergantung pada koneksi dan jaringan internet yang stabil.
Oleh karena itu, dia mengatakan, Dusun Waitoso menjadi lokasi dengan tantangan besar. Padahal, hasil pertanian memberi dampak besar bagi kehidupan petani. Atas dasar itu, baik Darma maupun petani di Waitoso, berharap dukungan pemerintah untuk membangun tower jaringan internet.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











