Pernyataan Gubernur Sumatera Barat Mengenai Jembatan Kereta Api di Lembah Anai
Beberapa waktu terakhir, beredar kabar mengenai rencana pembongkaran jembatan kereta api yang terletak di kawasan Lembah Anai, Sumatera Barat. Namun, hal ini dibantah oleh Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi. Menurutnya, tidak ada rencana pembongkaran jembatan tersebut.
Jembatan kereta api di kawasan Lembah Anai merupakan bagian dari Warisan Budaya Dunia yang diakui oleh United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Dalam pernyataannya, Mahyeldi menegaskan bahwa pemerintah provinsi berkomitmen untuk menjaga, melestarikan, dan mereaktivasi jalur tersebut sebagai bagian dari aset sejarah dan warisan budaya daerah.
Pernyataan ini disampaikan oleh Mahyeldi saat menerima audiensi dari komunitas heritage yang membahas pemeliharaan situs sejarah di Sumatera Barat. Salah satu topik utama dalam pertemuan tersebut adalah rencana pembongkaran jembatan kereta api di Lembah Anai. Mahyeldi menegaskan bahwa pemerintah provinsi tidak akan menyetujui pembongkaran jalur tersebut. Fokus pemerintah, katanya, adalah pada reaktivasi dan pelestarian, bukan pembongkaran.
Sejarah Jembatan Kereta Api di Lembah Anai
Jembatan kereta api di Lembah Anai merupakan bagian penting dari jaringan kereta api di Sumatera Barat yang dibangun selama masa kolonial Belanda. Pembangunan jalur ini digagas untuk mendukung pengangkutan komoditas utama, khususnya batu bara dari Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur (dulu Emmahaven).
Selain itu, jalur kereta api ini juga bertujuan untuk membuka akses dari pedalaman Minangkabau ke pesisir, sehingga mempercepat pengangkutan barang dan mobilitas penduduk. Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta api sepanjang 155 kilometer yang membentang dari Sawahlunto hingga Pelabuhan Teluk Bayur melalui Padang Panjang.
Selama 109 tahun, jalur tersebut digunakan secara rutin untuk mengangkut batu bara dan penumpang. Namun, seiring dengan berhentinya pasokan batu bara dari Sawahlunto yang dikelola PT Bukit Asam, operasi kereta api di jalur tersebut terhenti pada tahun 2003.
Selain jalur Teluk Bayur-Sawahlunto, Belanda juga membangun jalur Padang Panjang–Bukittinggi-Payakumbuh-Limbangan sepanjang 72 km. Jalur ini mengangkut hasil bumi dari pedalaman Sumatera Barat. Saat ini hanya tersisa jalur Padang-Pariaman (Stasiun Kayu Tanam) sepanjang 52 km yang masih rutin beroperasi setiap hari.
Insiden Kereta Api di Jembatan dekat Lembah Anai
Menurut catatan sejarah, pada 28 Juni 2000, terjadi insiden kereta api yang mengakibatkan jatuhnya rangkaian kereta di dekat Lembah Anai, Sumatera Barat. Rangkaian kereta api batu bara yang mengangkut penumpang terjatuh di Lembah Anai yang terletak di sebelah kiri lintasan kereta. Insiden tersebut menewaskan belasan penumpang.
Wali kota Padangpanjang kala itu, Yohanes Tamin, menyebut kecelakaan itu terjadi di Jembatan Tinggi yang memiliki ketinggian 25 meter dari permukaan sungai di kawasan obyek wisata air terjun Lembah Anai. Setelah terjadi penutupan jalan di kawasan Silaiang Kariang ruas jalan Padang-Padang Panjang pada Selasa (27/6/2000), pelajar dan PNS yang bermukim di sekitar sana diberi tumpangan kereta secara gratis sampai Jumat (30/6/2000) untuk menuju sekolah atau kantor.
Kereta gratis yang bisa ditumpangi masyarakat hanya beroperasi pada waktu tertentu. Yakni setiap pukul: 07.00 WIB, 10.00 WIB, 12.00 WIB, dan 16.00 WIB. Selain itu, setiap jam terdapat kereta yang diberangkatkan untuk mengangkut batu bara.
Sayangnya, pada saat itu calon penumpang tidak sabar untuk menanti jadwal pemberangkatan kereta penumpang, sehingga menaiki kereta batu bara yang lebih cepat tiba dan diberangkatkan. Akibatnya, lima gerbong bagian depan terlepas dari rangkaian karena tidak terkendali. Gerbong-gerbong itu jatuh ke tebing yang ada di sebelah kiri lintasan.
Padahal di sana terdapat sejumlah penumpang pelajar dan PNS yang menumpang di atas tumpukan batu bara. Tak lama, dua gerbong lainnya turut terjatuh karena terlepas dari lokomotif yang dipasang di bagian paling belakang. Terakhir, bagian lokomotif pun ikut lepas kendali dan jatuh tak jauh dari lokasi jatuhnya gerbong-gerbong sebelumnya.
Menurut dokumentasi Harian Kompas pada 30 Juni 2000, Direktur Operasi PT Kereta Api Indonesia Badrul Zaman mengatakan, jumlah penumpang diperkirakan sekitar 40 orang. Sebanyak 35 orang ditemukan, yaitu 15 orang meninggal dan 20 orang luka berat/ringan. Saat itu, diduga masih ada sedikitnya lima orang yang tertimbun batu bara dan terimpit gerbong. Jumlah korban pada 2 Juli 2000 disebut mencapai 19 orang.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."











