My WordPress Blog
Daerah  

Lebih dari 1.000 rumah terendam banjir di Cirebon, warga waspada hujan deras dan pasang air laut

Bencana Alam Mengguncang Wilayah Purwakarta dan Cirebon

Ribuan rumah terendam banjir dan dihancurkan oleh angin puting beliung saat pergantian tahun 2025 ke 2026. Suara gemuruh angin yang diselingi teriakan “Allahu Akbar” di luar terdengar mencekam di wilayah Purwakarta. Nasib pilu juga dialami warga Cirebon yang kembali khawatir akan terkena banjir besar.

Angin puting beliung merusak puluhan rumah dan bangunan di dua desa wilayah Kecamatan Campaka Kabupaten Purwakarta, menjelang pergantian tahun 2025-2026. Bencana kali ini menjadi yang terparah karena dampaknya sampai merobohkan beberapa bangunan.

“Yang ambruk itu langsung rata dengan tanah. Kebanyakan (yang terdampak) itu rumah, pohon-pohon tumbang, ada kandang ternak, penggilingan padi. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa maupun luka-luka,” kata Ketua Rukun Tetangga di Kampung Cisaat, Desa Cisaat, Nersih, Kamis 1 Januari 2026.

Dia menceritakan, angin puting beliung muncul Rabu 31 Desember 2025 sekitar pukul 16.30 di tengah cuaca hujan gerimis. Pada saat itu, kebanyakan warga diakui sudah pulang ke rumahnya masing-masing setelah bekerja di sawah sepanjang hari seperti biasanya.

Warga Cisaat menyangka akan terjadi angin puting beliung dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Bencana kali ini diakui menjadi yang pertama dengan dampak paling parah sepanjang hidup mereka.

“Setelah kejadian ini, sebagian ada yang mengungsi, sebagian lagi ada yang langsung dibetulkan atapnya. Soalnya ada gerimis jadi basah ke dalam, jadi langsung dibetulkan secara gotong royong,” ujar Nersih.

Menurut pengakuan salah seorang saksi mata, Rohati (52), angin bertiup sangat kencang. Dia bahkan sampai kesulitan membuka pintu dari dalam rumahnya.

Suara gemuruh angin yang diselingi teriakan “Allahu Akbar” di luar terdengar mencekam. Dia akhirnya baru bisa keluar rumah setelah berusaha membuka pintu yang terdorong angin dari arah luar. Namun, pemandangan di luar ternyata lebih mengerikan karena banyak rumah yang rusak bahkan ambruk setelah tertiup angin puting beliung.

“Kalau kata orangtua, kalau ada angin (kencang) jangan buka pintu nanti anginnya masuk ke dalam. Padahal hujannya kecil, tapi anginnya besar, suaranya bergemuruh seperti kapal lewat. Ini baru pertama kalinya saya merasakan,” tutur Rohati.

Sementara itu, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein menyebutkan jumlah bangunan yang terdampak angin puting beliung kali ini mencapai 29 unit. Sebanyak 22 unit di Desa Cisaat dan tujuh lainnya berada di Desa Cimahi Kecamatan Campaka.

Setelah meninjau kedua lokasi yang terdampak dan menemui para korban, dia berjanji untuk membantu renovasi bangunan yang rusak. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Purwakarta juga akan membangun kembali rumah yang roboh.

“Kita bantu warga sesuai dengan kebutuhan, itu sesuai tingkat kerusakannya dan tingkat kemampuannya. Jadi, kalau misalnya warga itu mampu, duitnya banyak ya kita bantu tapi tidak semua. Kalau warga itu tidak mampu, rumahnya rusak, kita bantu sepenuhnya,” kata Binzein.

Bagi warga yang terdampak, hari pertama 2026 harus diisi dengan kegiatan gotong royong memperbaiki rumah terdampak angin puting beliung. Mereka pun masih khawatir bencana serupa akan kembali terjadi karena cuaca ekstrem masih terjadi hingga saat ini.

Banjir Melanda Wilayah Cirebon

Sebelumnya, hujan lebat di akhir tahun 2025 menyebabkan sejumlah sungai meluap di Kota dan Kabupaten Cirebon. Banjir tak terelakan menerjang permukiman di daerah aliran sungai. Ribuan rumah warga terendam genangan yang ketinggiannya mencapai 1,5 meter.

Di Kota Cirebon, banjir menerjang daerah hilir di Kelurahan Pekiringan, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon. Sungai Sijarak dan Sungai Kedungpane meluap bersamaan menyusul hujan lebat yang turun sejak Selasa 30 Desember 2025 sore hingga malam hari.

Tingginya debit air kiriman dari wilayah hulu, membuat Sungai Sijarak dan Kedungpane meluap. Airnya limpas menerjang permukiman padat penduduk. Sedikitnya 500 rumah warga terendam. Ketinggian bervariasi, antara 20-50 sentimeter.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cirebon menjelaskan, banjir di Pekiringan karena hujan lebat dan luapan sungai. Kondisi itu diperparah oleh air laut pasang. Pada Selasa sore hingga malam, secara bersamaan, kondisi air laut sedang pasang. Akibatnya air dari hilir yang masuk ke wilayah Pekiringan tidak terbuang ke laut, namun malah tertahan gelombang pasang.

Sungai Gamel Meluap

Pada hari yang sama, Sungai Gamel yang merupakan anak Sungai Cipager juga meluap merendam sejumlah desa di Kecamatan Plered dan Weru, Kabupaten Cirebon. Sedikitnya 500 rumah warga terendam. Ketinggian air bervariasi antara 70 sentimeter sampai 120 sentimeter. Di sejumlah lokasi dekat sungai, ada yang mencapai 1,5 meter lebih.

Desa Gamel di Plered merupakan yang terparah. Kebetulan desa ini merupakan tempat pertemuan tiga sungai yang mengalir dari wilayah hulu di Kuningan.

Pada saat air meluap, Gamel tak ubahnya seperti kampung air. Bahkan gang-gang kecil antar rumah dan jalan desa, telah berubah seperti sungai dengan arus yang mengalir deras.

Di wilayah timur Kabupaten Cirebon, Sungai Ciberes yang mengalir ke wilayah Kecamatan Waled juga meluap. Air sungai yang hulunya di Kuningan itu menerjang rumah-rumah penduduk. Lebih dari 300 rumah warga terendam.

Desa Mekarsari dan Ciuyah, Kecamatan Waled yang paling parah terdampak banjir akibat hujan lebat dan luapan sungai tersebut. Sebagian warga sempat mengungsi ke tempat aman.

Petugas BPBD, bersama unsur Polri dan TNI, berupaya memastikan warga dalam keadaan aman, terutama di sejumlah blok yang dekat dengan aliran Sungai Ciberes. Genangan banjir akibat luapan sungai terus berlangsung hingga Kamis 1 Januari 2026, hanya telah mulai surut.

Meski begitu, warga masih dicekam kekhawatiran, karena hujan lebat masih berpotensi turun baik di Cirebon maupun di wilayah hulu sungai di Kuningan.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *