JAKARTA,
Hiruk-pikuk di Jalan Diponegoro, khususnya di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta Pusat, seolah tak pernah berhenti. Kawasan ini sering menjadi sorotan karena menjadi titik kemacetan yang parah bagi pengendara, terutama saat jam kerja pagi dan sore hari. Penyebab utamanya diduga berasal dari bahu jalan dan trotoar yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan umum, tetapi justru dipenuhi oleh pedagang kaki lima (PKL) serta kendaraan yang parkir liar.
Pada Minggu (11/1/2026), kondisi lalu lintas di depan RSCM terpantau lancar karena merupakan hari libur. Namun, keramaian di sisi jalan tetap terlihat seperti biasanya, dengan aktivitas jual beli makanan dan para sopir yang menunggu penumpang. Di sepanjang depan gedung RSCM, tumpukan motor terparkir di jalur paling kiri. Di depannya, terdapat sekitar 20 lapak pedagang yang memakan satu lajur jalan.
Pedagang tersebut bervariasi, mulai dari penjual minuman menggunakan sepeda hingga penjual makanan yang menggunakan gerobak dorong. Beberapa di antaranya bahkan menggelar kursi dan meja untuk makan. Di samping itu, deretan mobil bajaj berwarna biru juga berjajar di sepanjang jalan, menutupi lajur paling kiri dan jalur sepeda yang dicat hijau. Padahal, di area Halte Transjakarta RSCM, terdapat spanduk larangan berjualan di area jalan atau trotoar, sesuai Perda Provinsi DKI Jakarta Nomor 8 Tahun 2007.
Banyak warga terduduk di sisi trotoar, berbincang dan memakan jajanan hingga makanan berat yang dibeli dari para pedagang. Beberapa orang juga terlihat merokok di area trotoar, mengingat adanya larangan merokok di dalam kawasan rumah sakit. Di balik semrawutnya wajah area depan rumah sakit rujukan utama tersebut, tersimpan cerita dan upaya bertahan hidup dari mereka yang menggantungkan nasib di jalanan.
Asep (45), bukan nama sebenarnya, seorang penjual cilok yang mangkal di trotoar depan RSCM, menyadari bahwa keberadaannya sering dianggap sebagai biang kerok kemacetan. Namun, ia menolak jika pedagang dijadikan satu-satunya kambing hitam kemacetan. Ia menunjuk ke arah bajaj yang berhenti menunggu penumpang hingga memakan dua lajur jalan, serta ojek online yang parkir sembarangan. Menurutnya, pedagang hanya mengambil sedikit ruang di sisi jalan untuk mencari nafkah.
Bagi Asep dan pedagang lainnya, berjualan persis di depan gerbang rumah sakit adalah tempat paling strategis. Banyaknya orang yang berobat dan menjaga pasien di RSCM setiap harinya menjadi pasar yang bisa melariskan dagangannya. “Keluarga pasien biasanya yang beli. Kalau makan di dalam kantin RS mahal. Sekali makan bisa Rp 30.000, Rp 40.000. Saya paling Rp 15.000,” ujar Asep.
Meski demikian, Asep mengaku para pedagang memiliki aturan main tak tertulis jika ada ambulans yang lewat saat situasi darurat. “Kalau ada kedengeran sirine dari jauh, justru kami yang nyuruh motor buat pada minggir. Kita geser juga pasti lah,” ucap dia.
Bajaj kuasai jalur sepeda
Tidak hanya PKL, kemacetan di depan RSCM juga diperparah oleh barisan bajaj yang ngetem menutupi lajur sepeda. Abdul (52), bukan nama sebenarnya, seorang sopir bajaj tampak santai memarkir kendaraannya tepat di atas marka jalur sepeda berwarna hijau. Saat ditanya mengenai lokasinya memarkir kendaraan, ia mengaku jalur sepeda tersebut seringkali kosong dan tidak digunakan.
“Iya tahu ini jalur sepeda. Tapi, ya gimana, kita namanya mangkal. Enggak ada yang lewat juga sih sebenarnya,” kata Abdul. Ia mengaku sempat terlibat adu mulut dengan pesepeda yang menegurnya beberapa waktu lalu. Saat itu, ia memilih memberikan jalan, tetapi merasa kalau kebutuhan sopir bajaj juga seharusnya diperhatikan.
Para pedagang dan sopir bajaj pun berharap agar pemerintah bisa memberikan solusi yang saling menguntungkan. “Penginnya biar sama-sama enak. Kita kalau misal digusur ya kasih tempat yang enak gitu, jangan di tempat sepi. Siapa yang beli kan nanti,” ucap Asep. Senada, Abdul juga menyampaikan keinginannya untuk memiliki lokasi mangkal yang aman, tetapi juga strategis. “Kalau ada bisa dibikin kayak tempat khususnya juga boleh. Saya mah yang penting dapet penumpang. Sekarang aja dapetnya udah susah,” tutur dia.











