Masalah Guiding Block di Jakarta yang Mengancam Keselamatan Tunanetra
Di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur, Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) DPD DKI Jakarta mengungkapkan bahwa masih banyak guiding block atau ubin pemandu yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ketua Pertuni DPD DKI Jakarta, Ajad Sudrajad, menyatakan bahwa berdasarkan hasil pengawasan lapangan, sekitar 70 persen dari seluruh guiding block di Jakarta mengalami masalah.
“Saya rasa masih banyak yang belum standar, mungkin kalau saya boleh estimasikan 70 persen masih belum sesuai,” kata Ajad saat berada di Jatinegara, Jakarta Timur, pada Sabtu (17/1/2026).
Masalah yang Sering Terjadi pada Guiding Block
Masalah utama yang sering ditemukan adalah adanya guiding block yang justru menabrak tiang, pohon, atau berada di sudut tembok, hingga terletak di atas penutup saluran air. Selain itu, banyak akses trotoar dan guiding block yang disalahgunakan sebagai tempat parkir liar maupun tempat berdagang oleh pedagang kaki lima (PKL), sehingga membuat akses bagi tunanetra menjadi terhambat.
“Masih banyak (akses guiding block) yang disalah gunakan. Ubin pengarah yang ada belum sesuai (dapat diakses tunanetra), saya berharap mudah-mudahan segera diperbaiki,” ujarnya.
Ajad menekankan bahwa kondisi guiding block yang bermasalah ini tidak hanya mengganggu mobilitas tunanetra, tetapi juga membahayakan keselamatan mereka ketika berjalan di trotoar Jakarta.
Kasus Wanita Tunanetra yang Terjatuh ke Saluran Air
Kondisi guiding block di Jakarta turut menjadi perhatian setelah seorang wanita tunanetra pengguna Transjakarta Care terperosok ke saluran air di sekitar Halte Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, pada Minggu (11/1/2026). Menurut Ajad, selain faktor kelalaian petugas Transjakarta Care yang tidak mengantarkan penumpang hingga ke titik aman, kondisi guiding block dan trotoar di lokasi juga memicu kejadian tersebut.
“Seperti kasus guiding block yang (terdapat pada) tutup got. Ketika kita injak (bagian tutup got), dia bakalan terbalik. Nah, di situ akhirnya teman-teman bisa kecebur ke got,” tuturnya.
Menurut Pertuni, tunanetra sebenarnya dapat berjalan dengan baik tanpa pendamping, asalkan akses jalan memiliki guiding block yang sesuai. Namun, karena kondisi guiding block di Jakarta saat ini belum ramah terhadap tunanetra, para penyandang disabilitas seringkali mengalami kesulitan meski sudah menggunakan tongkat pemandu.
Tuntutan Evaluasi dari Pertuni
Atas kejadian ini, Ajad menilai bahwa evaluasi tidak hanya perlu dilakukan oleh Transjakarta, tetapi juga oleh Dinas Bina Marga DKI Jakarta, yang bertanggung jawab atas pengelolaan guiding block.
“Pertuni DPD DKI Jakarta mendorong Transjakarta melakukan evaluasi menyeluruh, dan memastikan petugas Transjakarta Care mengantarkan setiap penumpang hingga ke titik aman,” ujarnya.
Menurut Pertuni, keselamatan penumpang merupakan hal mutlak, terlebih bagi Transjakarta Care yang layanannya dikhususkan untuk penyandang disabilitas.
“Kan biasanya teman-teman setelah turun (armada Transcare) itu diantarkan ke rumah, atau di titik aman. Di titik aman, ketika sudah tiba titik aman baru ditinggalkan (petugas),” tuturnya.

Respons Dishub DKI Jakarta
Sebelumnya, sebuah video viral merekam wanita tunanetra terjatuh ke saluran air usai turun dari TransJakarta Care di kawasan Halte Transjakarta PLN Bulungan, Minggu (11/1/2026). Berdasarkan narasi yang beredar, korban telah meminta petugas Transjakarta Care hingga ke titik aman, tetapi petugas hanya memberi arahan secara lisan.
Akibatnya, saat korban berjalan sendirian tanpa pendamping, dia terperosok ke saluran air hingga pakaian yang dikenakannya kotor terkena lumpur dan kotoran.
Anak buah Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga memastikan telah menegur manajemen Transjakarta terkait insiden ini. Ia memperingatkan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Kai juga sudah menyampaikan teguran kepada manajemen Transjakarta, ke depan hal ini tidak boleh terulang kembali,” ucapnya.
Transjakarta Diminta Tanggung Jawab
Syafrin menambahkan, komunikasi telah dilakukan antara pihak Transjakarta dan korban. Ia memastikan bahwa persoalan ini sudah ditindaklanjuti dan pihak Transjakarta juga telah menyampaikan permintaan maaf secara langsung.
“Dari rekan-rekan Transjakarta juga sudah komunikasi dengan beliau, yang bersangkutan, dan sudah ada penyelesaiannya,” ujarnya.











