My WordPress Blog
Daerah  

Angkot Manado Akan Diubah Fungsi, Akademisi Unsrat Soroti Peran Mikrolet sebagai Penghubung

Peran Feeder dalam Sistem Transportasi Kota Manado

Pengalihan fungsi angkot mikrolet menjadi feeder di Kota Manado, Sulawesi Utara, menjadi topik yang menarik perhatian masyarakat dan pengguna transportasi umum. Rencana ini dianggap sebagai langkah penting dalam memperkuat integritas sistem transportasi perkotaan. Sebagai bagian dari penataan transportasi yang lebih terarah, kebijakan ini dilakukan setelah beroperasinya bus Trans Manado.

Menurut Wali Kota Manado Andrei Angouw, transportasi selalu berkembang dan berevolusi, sehingga pihaknya tidak dapat menghentikan proses tersebut. Dalam konferensi pers awal tahun 2026, ia menjelaskan bahwa pihaknya berupaya sebaik mungkin untuk meminimalkan dampak negatif dari perubahan ini. Ia menegaskan bahwa angkot mikrolet akan dibuatkan rute feeder, yang merupakan layanan transportasi penghubung antara area lokal dengan jalur utama.

Feeder memiliki peran penting dalam sistem transportasi modern. Menurut Akademisi Universitas Sam Ratulangi Manado, Dr. Eng. Ir. Pingkan Peggy Egam, MT., IPM, feeder bertugas menghubungkan kawasan pemukiman atau titik perjalanan kecil dengan moda transportasi utama. Hal ini membuat akses masyarakat terhadap transportasi massal lebih mudah dan efisien.

Pingkan menilai bahwa sistem feeder yang terintegrasi dapat meningkatkan aksesibilitas, efisiensi mobilitas, serta mengurangi kemacetan. Dengan adanya feeder, masyarakat lebih cenderung menggunakan transportasi umum daripada kendaraan pribadi, sehingga kepadatan lalu lintas di perkotaan bisa berangsur menurun.

Dalam perencanaan tata kota, feeder juga menjadi alternatif penting dalam integrasi sistem transportasi yang berkelanjutan. Menurut Pingkan, feeder mampu menciptakan sistem transportasi yang terhubung dan berkelanjutan, sehingga penataan dan manajemen kota akan lebih tertata. Selain itu, feeder membantu memberikan akses transportasi yang lebih baik bagi kawasan pinggiran kota, sekaligus mendukung pemerataan ekonomi dan sosial.

Selain itu, feeder juga menjadi elemen penting dalam mendukung konsep Transit Oriented Development (TOD), yang bertujuan menekan kepadatan dan memaksimalkan efisiensi ruang kota. Namun, Pingkan juga menyoroti tantangan dan risiko yang perlu diperhatikan. Jika armada tidak cukup dan koordinasi antar moda tidak baik, layanan feeder bisa menjadi tidak efektif. Potensi kemacetan lokal juga bisa muncul jika infrastruktur jalan lokal tidak memadai.

Masalah lain yang perlu diperhatikan adalah penggunaan armada yang tidak layak jalan atau berbahan bakar tidak standar, yang berpotensi menimbulkan kebisingan dan polusi di kawasan permukiman. Oleh karena itu, Pingkan menekankan perlunya regulasi dan kebijakan pemerintah yang tegas namun humanis agar dampak negatif dapat diminimalisir.

Ia mencontohkan, sejumlah kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Bandung, dan kota lainnya telah lebih dahulu menerapkan sistem feeder untuk menghubungkan kawasan perumahan dan wilayah pinggiran dengan koridor transportasi utama. Dengan mempertimbangkan kebutuhan dan perkembangan perkotaan berkelanjutan, Pingkan menegaskan bahwa feeder bukan sekadar moda penghubung.

Feeder harus dipandang sebagai bagian dari strategi integrasi sistem perkotaan berkelanjutan, yang didukung kebijakan cerdas dan humanis dari aspek sosial, ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan.

Amanda Almeirah

Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *