SPPG Air Mesu Timur: Menyokong Petani Lokal dengan Pasokan Harian Sayuran
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Air Mesu Timur, yang berada di Kecamatan Pangkalanbaru, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, memiliki peran penting dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Setiap hari, SPPG menerima pasokan sayuran dari petani lokal dalam jumlah yang mencapai puluhan hingga ratusan kilogram. Hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ribuan penerima manfaat MBG.
Salah satu komoditas yang sering kali dipasok adalah timun. Kebutuhan harian untuk timun berkisar antara 80 hingga 100 kilogram. Proses pengolahan bahan pangan terlihat jelas di dapur SPPG, di mana sayuran dibersihkan dan dipotong secara manual oleh petugas yang mengenakan seragam biru. Hasil olahan tersebut kemudian disajikan sebagai menu harian bagi penerima manfaat MBG.
Kepala SPPG Air Mesu Timur, Ade Meza, menjelaskan bahwa timun menjadi salah satu bahan utama dalam menu harian. Seluruh pasokan timun saat ini berasal dari petani setempat, khususnya dari Desa Air Mesu, Air Mesu Timur, dan wilayah sekitarnya. Ia menyebutkan bahwa kebutuhan timun per hari berkisar antara 80 sampai 100 kilogram. Jika dihitung per bulan, jumlahnya bisa lebih dari 500 kilogram.
Meski pasokan dari petani lokal terkadang belum sepenuhnya cukup, SPPG tetap menyerap hasil panen petani dalam jumlah apa pun. Jika petani hanya mampu menyuplai puluhan kilogram, SPPG tetap mengambilnya. Kekurangannya akan dicari dari petani lain.
Saat ini, SPPG Air Mesu Timur melayani 3.249 penerima manfaat program MBG yang tersebar di tiga desa, yaitu Desa Air Mesu Timur, Air Mesu, dan Desa Jeruk. Dari sisi ekonomi, Ade menyebut perputaran uang di dapur SPPG cukup besar. Untuk satu jenis sayuran saja, nilai belanja bisa mencapai jutaan rupiah per hari.
“Belanja sayuran per jenis bisa di bawah Rp 5 juta per hari. Untuk timun, sekitar 100 kilogram sekali beli bisa menghabiskan dana sekitar Rp 2,5 juta,” jelas Ade. Secara keseluruhan, total anggaran operasional SPPG Air Mesu Timur, mulai dari pengadaan bahan pangan, operasional dapur, tenaga masak, hingga distribusi, dapat mencapai sekitar Rp 1 miliar per bulan.
Ade menegaskan bahwa SPPG secara konsisten memprioritaskan pembelian bahan baku dari petani lokal dibandingkan pemasok besar atau dari luar daerah. Bahkan, harga beli sengaja ditetapkan sedikit lebih tinggi sebagai bentuk keberpihakan kepada petani.
“Kalau lewat koperasi petani biasanya mendapat Rp 10 ribu per kilogram, di kami bisa Rp 10.500. Memang selisihnya tidak besar, tapi itu bentuk dukungan agar petani tetap semangat,” ujarnya. Menurut Ade, kebijakan tersebut sejalan dengan arahan Presiden agar program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak-anak, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi desa.
“Uang negara harus kembali ke masyarakat. Dari masyarakat, untuk masyarakat,” tegasnya. Ade menilai keberadaan SPPG merupakan peluang nyata bagi petani untuk meningkatkan produksi, terutama komoditas cepat panen seperti timun. Ia bahkan mendorong petani agar berani menanam dalam skala lebih luas karena kebutuhan SPPG bersifat berkelanjutan.
“Kami membutuhkan pasokan setiap hari. Pasarnya jelas dan jangka panjang. Kalau petani mau tanam lebih luas, kami siap menyerap,” katanya. Ade juga berharap dukungan dari Dinas Pertanian agar peluang ini dapat dimanfaatkan secara maksimal, sehingga program MBG tidak hanya menyehatkan anak-anak, tetapi juga memperkuat ekonomi desa.
Dapur SPPG Berdampak Besar pada Ekonomi Lokal
Diberitakan sebelumnya, keberadaan dapur SPPG yang dikelola Badan Gizi Nasional (BGN) mulai memberikan dampak nyata terhadap pergerakan ekonomi lokal di Bangka Belitung. Selain petani, peternak hingga pelaku UMKM turut merasakan efek berantai dari Program MBG.
Kepala Regional BGN Bangka Belitung, Nyayu Kurnia Ramadhini, menyebut setiap dapur SPPG mengelola anggaran operasional sekitar Rp1 miliar per bulan yang digunakan untuk pengadaan bahan baku pangan, operasional dapur, hingga distribusi makanan. “Kalau dihitung kasar, satu dapur hampir Rp1 miliar per bulan. Artinya, ada puluhan miliar rupiah yang berputar setiap bulan di daerah. Efek ekonominya tentu besar,” katanya.
BGN menegaskan pengadaan bahan baku sebisa mungkin diprioritaskan dari wilayah setempat agar perputaran ekonomi tetap berada di daerah. Dengan keterlibatan masyarakat yang semakin luas, Program MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan gizi penerima manfaat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi desa.
Penulis yang memiliki perhatian besar pada dunia kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia suka mengikuti jurnal kesehatan, melakukan yoga, dan mempelajari resep makanan sehat. Menurutnya, informasi yang benar adalah kunci hidup lebih baik. Motto: “Tulisan yang sehat membawa pembaca sehat.”











