Kasus Hadiah Mobil yang Belum Diterima oleh Pemenang Undian Jalan Sehat
Yulia Nurul, warga Kabupaten Cilacap yang tinggal di Desa Sudagaran, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, masih belum menerima hadiah mobil Honda Brio setelah enam bulan menjadi pemenang dalam acara jalan sehat perayaan HUT ke-80 RI. Acara tersebut diselenggarakan oleh Pemkab Banyumas bekerja sama dengan event organizer (EO). Meski telah memenuhi berbagai persyaratan dan mengajukan permohonan penyerahan hadiah, Yulia belum juga mendapatkan mobil yang dijanjikan.
Muskinul Fuad, suami Yulia, menyampaikan bahwa pihak EO sempat menghubungi mereka pada awal September 2026. Pihak EO menjanjikan bahwa hadiah akan diserahkan pada tanggal tertentu. Namun, ketika hari itu tiba, penyerahan hadiah tidak bisa dilakukan. Fuad mengaku khawatir dan mengancam akan menempuh jalur hukum jika masalah ini tidak segera terselesaikan.
Selama acara jalan sehat, Fuad membeli 100 lembar tiket undian seharga Rp2.500 per lembar. Setelah diumumkan sebagai pemenang, ia juga telah melengkapi semua persyaratan yang diminta panitia, termasuk menyerahkan KTP untuk pendataan. Ia berharap pihak terkait dapat segera memberikan kejelasan dan menyelesaikan masalah ini.
Penjelasan dari Pemda
Agus Nur Hadie, Sekretaris Daerah (Sekda) Banyumas sekaligus Ketua Panitia HUT ke-80 RI, menjelaskan bahwa kegiatan jalan sehat merupakan bagian dari rangkaian acara yang digelar Pemkab Banyumas bersama EO. “Dalam rangka HUT RI, pemkab menggelar berbagai acara seperti perlombaan tenis, paduan suara, dan lainnya, termasuk ada jalan sehat,” ujar Agus.
Menurut Agus, setiap kegiatan memiliki panitia sendiri. Untuk kegiatan jalan sehat, Pemkab Banyumas bekerja sama dengan EO. Tiket jalan sehat dijual seharga Rp2.500 per lembar, dengan berbagai hadiah yang dijanjikan, termasuk hadiah utama mobil Honda Brio.
Agus menjelaskan bahwa masalah muncul karena uang hasil penjualan tiket diduga dibawa kabur oleh salah satu karyawan EO. “Informasinya, saat akan digunakan untuk membayar mobil, uangnya dibawa oleh salah satu pegawainya. Ini lagi dicari orangnya, EO-nya tetap bertanggung jawab,” ujar Agus.
Penjelasan dari Event Organizer
Direktur Boss Event Organizer, Najmudin, menjelaskan bahwa nama perusahaannya hanya dipinjam oleh seseorang untuk menggelar acara tersebut. “Awal dikenalkan kawan, (orang tersebut mengatakan) saya pinjam benderanya, nanti ada investor Rp150 juta. Tapi selama perjalanan tidak ada apa-apa, bingung saya,” ujar Najmudin.
Najmudin mengaku, sebagai pemilik perusahaan, dirinya hanya menandatangani perjanjian kerja sama dengan Pemkab Banyumas. Sementara teknis penyelenggaraan dilakukan oleh orang tersebut. “Sebagai pemilik perusahaan otomatis saya yang melakukan MoU. Rekrutmen (crew) juga dari sana semua, saya cuma datang pas hari H,” ujar Najmudin.
Namun, dalam perjalanannya, Najmudin menyebut laporan keuangan yang disampaikan oleh pelaksana tidak jelas. “Laporan keuangannya tidak jelas,” imbuhnya. Ia mengaku sudah mencium gelagat mencurigakan sejak acara berjalan. “Ketika perjalanan sudah mulai meragukan, saya minta buat surat pernyataan (bahwa penganggungjawab acara adalah pelaksana), tapi tidak mau tandatangan,” tambah Najmudin.
Najmudin juga menegaskan, tidak ada aliran uang penyelenggaraan jalan sehat yang masuk ke rekening perusahaan maupun rekening pribadinya. “Semua transaksi tidak ada yang masuk ke rekening perusahaan dan pribadi saya,” kata Najmudin. Ia juga mengaku tidak mengetahui teknis kerja sama antara panitia dengan pihak dealer Honda. “Lobi dengan (dealer) Honda juga saya tidak dilibatkan,” ujar Najmudin.
Pendapatan Panitia yang Mencapai Ratusan Juta
Panitia disebut meraup pemasukan hingga sekitar Rp420 juta. Najmudin mengungkapkan bahwa tiket acara yang digelar pada 24 Agustus 2025 itu terjual sebanyak 180.000 lembar dengan harga Rp2.500 per tiket. “180.000 tiket dikalikan Rp2.000 saja, yang Rp500 katakan untuk fee penjualan, totalnya sudah Rp380 juta,” kata Najmudin.
Selain dari penjualan tiket, panitia juga memperoleh pemasukan dari sewa tenda bagi pedagang UMKM di lokasi acara di Menara Teratai Purwokerto. “Sewa tenda UMKM Rp1 juta, waktu itu mungkin ada sekitar 50 tenda, Rp40 juta ya dapet,” ujar Najmudin. Dengan perhitungan tersebut, total pemasukan panitia diperkirakan mencapai sekitar Rp420 juta. Namun, Najmudin menyebut pelaksana yang meminjam bendera perusahaannya tidak dapat mempertanggungjawabkan laporan keuangan. “Laporan keuangannya tidak jelas,” ujar Najmudin.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."











