Warga Menghadapi Kesulitan Berat Menjelang Ramadan
Menjelang bulan suci Ramadan, warga di beberapa daerah di Jawa Timur menghadapi tantangan berat akibat banjir lahar hujan dari Gunung Semeru. Kondisi ini memperparah kesulitan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama saat mempersiapkan puasa.
Banjir Lahar Hujan yang Mengganggu Kehidupan Sehari-hari
Di Dusun Sumberlangsep, Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, warga masih harus berjuang melawan derasnya banjir lahar hujan yang terjadi setiap kali hujan turun di kawasan puncak Gunung Semeru. Arus Sungai Regoyo yang membawa material batu membuat warga kesulitan menyebrang saat pulang ke rumah.
Bebatuan yang terbawa arus lahar membuat warga enggan melintasi sungai sendirian. Mereka lebih memilih bergotong royong agar kendaraan tidak mogok atau terseret arus. Gino, salah satu warga setempat, menjelaskan bahwa kondisi ini sering terjadi, terutama ketika curah hujan tinggi di wilayah atas Gunung Semeru.
“Arusnya deras sekali, banyak batu besar ikut terbawa. Kalau tidak saling bantu, motor bisa jatuh atau terseret,” ujar Gino.
Selain itu, akses utama berupa jembatan limpas juga terputus, sehingga warga harus menerjang aliran banjir lahar untuk bisa kembali ke rumah. Meski berisiko, mereka tetap nekat melintasi banjir karena jembatan sudah rusak.
Pemantauan dan Imbauan dari BPBD
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menjelaskan bahwa banjir lahar hujan dipicu oleh tingginya intensitas hujan di puncak maupun lereng Gunung Semeru. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah menempatkan personel untuk melakukan pemantauan dan memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap waspada.
Jembatan rusak diterjang banjir memang seringkali menjadi musibah berkepanjangan bagi warga. Di Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, warga terpaksa menggunakan kereta gantung sederhana untuk melintasi Sungai Jabak menuju Kabupaten Trenggalek.
Kereta Gantung sebagai Solusi Darurat
Aksi warga patungan Rp 10 juta untuk membuat kereta gantung terjadi di Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Kereta gantung manual yang terbuat dari rangka besi dan kayu ditarik secara manual oleh warga. Fungsinya menggantikan jembatan yang ambrol diterjang banjir pada Jumat (2/1/2026) lalu.
Suyanto, salah satu warga Desa Gedangan sekaligus pengelola kereta gantung, menjelaskan bahwa alat penyeberangan tersebut merupakan inisiatif warga agar aktivitas tetap berjalan. “Kami inisiatif patungan, mengumpulkan sekitar Rp10 juta untuk membangun kereta gantung darurat karena jembatan yang kami bangun ambrol bulan kemarin,” ujarnya.
Sebelumnya, warga tidak mengalami kesulitan untuk bekerja maupun bersekolah ke Kabupaten Trenggalek. Sebagian besar warga Desa Gedangan bekerja dan sekolah di wilayah tersebut yang jaraknya lebih dekat dibandingkan ke Ponorogo.
Sejarah Jembatan yang Ambrol
Awalnya, pada 2010, warga membangun jembatan dari anyaman bambu secara swadaya. Pada 2014, mereka kembali bergotong royong mengumpulkan dana hingga sekitar Rp 300 juta untuk membangun jembatan beton yang menghubungkan Desa Gedangan dengan Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Namun, banjir pada awal Januari lalu menghantam dua pondasi jembatan sepanjang 70 meter tersebut. Akibatnya, badan jembatan sepanjang sekitar 25 meter ambrol ke dasar sungai.
“Untuk menyeberang, warga menggunakan kereta gantung karena jembatan yang ambrol sekitar 40 meter,” kata Suyanto.
Kepala Dusun Purworejo, Sumarno, menjelaskan bahwa jembatan Sungai Jabak merupakan akses terdekat menuju Kabupaten Trenggalek. Sebanyak sekitar 750 warga terdampak ambrolnya jembatan tersebut. Menurutnya, memang ada jalur alternatif, namun warga harus memutar sejauh kurang lebih 20 kilometer.
“Ini akses tercepat untuk menuju ke Kabupaten Trenggalek. Ada jalan lain, tapi harus memutar sekitar 20 kilometer,” ujarnya.
Desa Gedangan sendiri berjarak sekitar dua jam perjalanan dari pusat Kota Ponorogo dan lokasinya lebih dekat ke Trenggalek. Karena itu, keberadaan jembatan sangat vital bagi mobilitas warga.
Sumarno berharap Pemerintah Kabupaten Ponorogo segera memberikan perhatian terhadap ambrolnya jembatan tersebut agar masyarakat bisa kembali melintas dengan aman dan nyaman. “Semoga segera dibangunkan jembatan yang mumpuni,” ucapnya.











