My WordPress Blog
Daerah  

Lebaran Sunyi di Huntara: Kue Hanyut dan Trauma di Balik Takbir

Kondisi Penyintas Banjir di Huntara Kapalo Koto Saat Idul Fitri

Di tengah suasana yang biasanya penuh kegembiraan, penyintas banjir di huntara Kapalo Koto menghadapi perayaan Idul Fitri dengan rasa sunyi dan kesedihan. Tahun ini, Lebaran 2026 terasa sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak ada aroma rendang yang menggugah selera, bahkan toples kue yang biasanya menjadi bagian dari tradisi tidak bisa ditemukan.

Saat lantunan takbir menggema di sekitar masjid, para penyintas justru masih trauma akan pengalaman buruk mereka. Mereka teringat kembali pada ganasnya banjir yang merenggut segala sesuatu, termasuk rumah dan harta benda mereka. Perayaan hari raya yang biasanya penuh tawa dan kebahagiaan kini hanya menjadi momen untuk mengenang masa lalu yang penuh kesedihan.

Suasana Sunyi di Kompleks Huntara

Kompleks huntara di Kapalo Koto, Kota Padang, Sumatera Barat, tampak lengang saat dikunjungi pada Jumat (20/3/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Kesunyian begitu pekat menyelimuti lorong-lorong sempit di antara bilik-bilik kayu yang sederhana. Beberapa pintu huntara terlihat terkunci rapat dengan gembok besi yang kaku. Tak ada tawa renyah anak-anak yang biasanya berlarian pamer baju baru, sebuah pemandangan yang lazim ditemui di sudut-sudut kota lainnya.

Beberapa rumah yang pintunya terbuka pun tampak sepi dari aktivitas. Hanya terlihat beberapa penghuni yang duduk termenung di ambang pintu, menatap kosong ke arah jalanan yang masih menyisakan debu.

Rasa Sunyi yang Menghiasi Perayaan Lebaran

Santi, salah satu penghuni huntara, mengungkapkan betapa getirnya perasaan merayakan Lebaran jauh dari rumah asli yang kini telah tiada. “Lebaran tahun ini sangat berbeda. Terasa sunyi sekali,” bisiknya pelan dengan mata berkaca-kaca. Baginya, suasana hari raya kali ini terasa asing di telinga dan hatinya. Biasanya, gema takbir disambut dengan kesibukan di dapur, namun kini pikirannya tak lagi mampu menjangkau tradisi itu.

“Tak ada lagi terpikir untuk merendang. Jangankan daging, toples kue saja kami sudah tidak punya lagi,” ujar Santi. Ia tertunduk sejenak, teringat pada set toples kue yang biasa ia pajang setiap tahun. Benda sederhana itu hanyut tak bersisa dibawa amuk banjir bandang yang menghancurkan Kelurahan Kapalo Koto akhir tahun lalu.

Kini, di atas meja kecilnya hanya ada beberapa toples kue pemberian dermawan. Sebuah pemandangan yang memancing rasa haru, sekaligus pengingat akan kebaikan hati orang asing di tengah keterpurukan. Perasaan Santi bercampur aduk antara syukur karena masih diberi kesempatan hidup, namun juga duka yang mendalam karena harus merayakan kemenangan di bilik sempit yang bukan miliknya.

Trauma di Balik Gema Takbir

Hal senada diungkapkan oleh Murtis, penghuni huntara lainnya. Baginya, setiap lantunan takbir yang terdengar dari masjid sekitar justru membawa kembali ingatan akan ganasnya banjir yang merenggut segalanya. “Semua habis tak bersisa, hanya tinggal kenangan saja. Rumah kami hilang, harta kami pun lenyap,” kenang Murtis sembari menyeka sudut matanya yang basah.

Sawah Tertimbun Batu dan Ketidakpastian akan Hari Esok

Kepedihan Murtis kian bertambah saat ia mengingat sawah yang menjadi satu-satunya tumpuan hidup. Lahan hijau itu kini telah berubah menjadi hamparan batu-batu besar yang tak lagi bisa ditanami. “Sawah untuk makan pun sudah tidak ada, tertimbun batu. Kami bingung bagaimana harus menyambung hidup ke depannya,” keluhnya.

Kini, fokus utama para penghuni huntara bukan lagi soal kemeriahan baju baru atau sajian rendang yang lezat. Pikiran mereka tersita pada cara untuk tetap bertahan hidup di tengah ketidakpastian masa depan. Meski kehangatannya tak sedalam rumah lama, para penyintas ini mencoba untuk tetap saling menguatkan. Mereka saling menghibur satu sama lain, berbagi rasa yang sama sebagai sesama korban bencana.

Menenun Harapan di Tengah Puing Nasib

Di balik dinding-dinding papan ini, mereka belajar untuk mensyukuri hal-hal kecil, meski luka di hati akibat bencana akhir tahun lalu masih basah dan terasa perih. Lebaran di Huntara Kapalo Koto adalah potret ketabahan di tengah puing-puing nasib yang hancur. Tiga bulan berlalu, namun luka akibat bencana itu masih menganga lebar.

Di saat dunia merayakan kemenangan dengan sukacita, mereka justru sedang berjuang melawan sunyi dan ingatan tentang rumah yang hanyut. Di balik pintu-pintu yang terkunci, ada harapan yang lirih agar hari esok tak lagi sepedih toples raya yang hilang dibawa arus, dan hidup bisa kembali utuh meski perlahan.

Kaila Azzahra

Penulis berita yang menggemari liputan ringan seputar tren, hiburan, dan dunia kreatif. Ia hobi mendengarkan musik pop, membuat catatan ide, dan memotret suasana kota. Menurutnya, kreativitas lahir dari rasa bahagia. Motto: "Tulislah apa yang bisa memberi senyum."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *