Langkah Tegas Pemkot Jakarta Selatan untuk Atasi Banjir di Kali Krukut
Pemerintah Kota Jakarta Selatan telah menyiapkan langkah tegas terhadap warga yang membuang sampah sembarangan di bantaran kali. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya normalisasi Kali Krukut untuk mengurangi potensi banjir di wilayah Karet Semanggi, Setiabudi.
Wali Kota Administrasi Jakarta Selatan, Muhammad Anwar, menegaskan bahwa penindakan perlu dilakukan agar memberikan efek jera bagi masyarakat yang nekat mencemarkan lingkungan. Ia menyatakan bahwa pelaku yang tertangkap basah akan diberikan sanksi melalui PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil).
“Bagi OTT (operasi tangkap tangan) yang buang sampah sembarangan akan diberikan sanksi melalui PPNS,” ujar Anwar saat meninjau pelaksanaan kerja bakti di Kali Krukut, Minggu (12/4/2026).
Anwar menyoroti kondisi Kali Krukut yang dipenuhi sampah, yang dinilai menjadi salah satu penyebab utama genangan air saat hujan deras atau kiriman air. Ia menekankan pentingnya menjaga kebersihan bantaran kali dan tidak membuat sampah di sekitar area tersebut.
“Jangan mengokupansi bantaran kali, yang kedua, jangan dibuat sampah atau buang sampah sembarang. Tadi sepanjang itu kan sampah semua. Berarti kan sampah dari mana ya? Pasti dari warga lah, nggak mungkin dari mana-mana,” katanya.
Selain masalah sampah, Anwar juga mengungkap adanya penyempitan aliran kali yang diduga berkaitan dengan kewajiban pengembang. Kondisi ini memperparah aliran air di hilir. Ia mencontohkan adanya sebuah rumah yang diduga memiliki kewajiban pelebaran kali.
“Tadi juga saya ketemu ada satu rumah, infonya katanya itu (pelebaran kali) kewajiban pengembang. Jadi kali agak tersumbat di hilirnya, nanti kami akan panggil kalau memang kewajiban pengembang, kami harus selesaikan secepat mungkin,” ucapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemkot Jakarta Selatan menggelar kerja bakti skala besar melalui program Jaga Jakarta dengan fokus pengerukan dan pengurasan sedimen di Kali Krukut. Anwar menyebut pengerukan dilakukan sepanjang sekitar 860 meter, dengan total lumpur yang diangkat mencapai ribuan meter kubik. Upaya ini ditargetkan mampu mengurangi genangan yang selama ini mencapai 70 sentimeter.
“Kurang lebih kira-kira sepanjangnya 860 meter dengan yang kami akan kuruk itu 8.642 kubik lumpur,” imbuhnya.
Anwar optimistis, setelah pengerukan dan perbaikan pintu air dilakukan, genangan tinggi tidak akan kembali terjadi. “Hitungan saya sih 70 cm nggak naik lagi ya. Paling hanya di jalan sebentar genangan keluar,” tuturnya.
Kegiatan ini melibatkan sekitar 400 personel gabungan dari unsur pemerintah dan masyarakat. Warga dilibatkan untuk membersihkan saluran lingkungan, sementara pengerukan di aliran utama dilakukan dengan alat berat.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Selatan, Santo, menjelaskan pihaknya mengerahkan tiga unit ekskavator dan 10 dump truck untuk mengangkut sedimen. “Jadi untuk kerja bakti pada hari ini, personel yang ada, ini 400 orang dan saat begitu juga, kami didukung dengan eskavator, model Amphibi ada dua dan satu yang mini ya jadi ada 3 tiga unit,” kata Santo.
Dia menambahkan, total sedimentasi yang ditangani tidak hanya di Kali Krukut, tetapi juga mencakup kawasan Bendungan Udik dan Kavling Polri dengan volume mencapai ribuan meter kubik dan kedalaman lumpur hingga 1,5 meter. “Nah, ini untuk pengerukan sedimentasi, ini nanti totalnya, baik yang ada di Kali Krukut maupun yang di Bendungan Udik sama Kavling Polri, itu totalnya sekitar 6.842 kubik. Nah, ketinggiannya, ini antara 1 sampai 1,5 meter,” jelasnya.
Sebagai langkah lanjutan, Pemkot juga akan menambah pompa otomatis di Bendungan Udik untuk mempercepat pengendalian air saat debit meningkat. “Nah, itu kami ada pintu akhir, nanti kami tambah dengan ada pompa otomatis. Ya, jadi Kami nggak perlu menggunakan orang, kami hidupin secara otomatis. Mudah-mudahan warga Bendungan Udik ini tidak terjadi genangan lagi,” ungkap Santo.
Upaya terpadu ini diharapkan tidak hanya mengatasi persoalan banjir secara teknis, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. “Ya, tantangannya yang pertama yang jelaskan bangunan rumah yang di pinggir-pinggir kali. Ya, takutnya kami keruk nih longsor, makanya kami juga perlu ekstra berhati-hati, ya, supaya pekerjaan kami ini bisa berjalan dengan baik,” tutup Santo.











