Pengembangan PSEL di TPA Sarimukti, KBB
Pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti akan dibangun di lahan tambahan milik Perhutani. Proyek ini telah disepakati dan dituangkan dalam nota kesepahaman antara Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dengan Provinsi Jawa Barat serta empat daerah di Bandung Raya yang bergantung pada TPA Sarimukti, termasuk Kota Depok, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Cianjur.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsih, menjelaskan bahwa saat ini Pemprov Jabar sedang mengajukan permohonan rencana pembangunan PSEL di Kawasan Sarimukti dengan luas lahan sekitar 25 hektare.
Menurut Ai, lokasi dan pengelolaan PSEL di Sarimukti akan berbeda dengan pengelolaan di zona-zona yang sudah eksisting sejak lama. “PSEL ini instalasi baru, jadi nanti untuk lahannya juga tidak di tempat Sarimukti yang sekarang (zona eksisting), kita sedang mengajukan perluasan IPPKH (Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan) ke Kementerian Kehutanan untuk mendukung pembangunan PSEL ini,” ujar Ai, Sabtu (11/4/2026).
Lahan tersebut masih belum final karena akan dipertimbangkan oleh Perhutani sebelum memberikan izin pemanfaatan. “Pasti akan ada evaluasi dari pihak Perhutani, berapa yang akan diizinkan dan seterusnya. Tapi permohonan Pak Gubernur ini sudah berjalan,” katanya.
Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) pun, kata Ai, akan melakukan survei ke lapangan meninjau lahan yang akan diusulkan untuk menjadi PSEL. “Mudah-mudahan ini bisa memenuhi syarat dari sisi KLH. Walaupun memang sebenarnya untuk PSEL di Sarimukti masih ada PR (pekerjaan rumah) besar ya,” ucapnya.
Masalah Utama dalam PSEL di Sarimukti
PR besar yang harus dihadapi dalam mewujudkan PSEL di Sarimukti, kata Ai, diantaranya kebutuhan air yang relatif besar untuk proses pengolahan sampah menjadi energi listrik. “Karena kita mengetahui bersama bahwa WTE ini butuh air yang sangat besar untuk pengoperasiannya dan sampai saat ini memang kita identifikasi di sana itu hanya ada sungai-sungai kecil yang mungkin debit maupun kontinuitasnya terbatas,” katanya.
Pemenuhan air untuk proyek tersebut, kata Ai, rencananya akan mengalirkan dari Cirata, meski masih butuh kajian mendalam mengingat kondisi ketinggian Cirata dan Sarimukti yang berbeda. “Memang yang terdekat itu kan ada di Cirata ya, walaupun mungkin dari sisi instalasinya juga agak cukup PR ya karena kalau kita hitung, jaraknya terdekatnya sekitar sembilan kilo, dan head-nya atau perbedaan tinggi topografinya itu cukup tinggi,” ucapnya.
Ai memastikan, opsi untuk memenuhi kebutuhan air baku PSEL Sarimukti akan terus diupayakan dengan membuat perencanaan matang dan komprehensif. Diharapkan, perencanaan tersebut bisa menjadi bagian dari pemenuhan persyaratan pemerintah dalam mengusulkan PSEL di Sarimukti KBB.
“Insya Allah ini sudah kita rencanakan dan mudah-mudahan ini nanti bisa menjadi bagian dari kelengkapan persyaratan dasar dari PSEL ini,” katanya.
Langkah Selanjutnya
Pemprov Jabar terus berupaya agar proyek PSEL di Sarimukti dapat segera direalisasikan. Proses perizinan dan survei lapangan dilakukan secara berkala untuk memastikan semua persyaratan terpenuhi. Hal ini juga melibatkan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, termasuk Perhutani dan Kementerian Kehutanan.
Selain itu, diperlukan pendekatan teknis yang lebih detail untuk menyelesaikan masalah ketersediaan air dan infrastruktur pendukung. Dengan perencanaan yang matang, diharapkan PSEL di Sarimukti dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan sampah dan produksi energi listrik.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."











